Te Sekai

Explore TIM’s world

Potongan Keindahan Alam Laut Indonesia: Kepulauan Karimun Jawa – Part 1

Memasuki pertengahan bulan Maret suasana kampusku memang sedikit “memanas”. Maklum pastinya semua mahasiswa sedang sibuk-sibuknya menghadapi Ujian Tengah Semester. Di tengah ke”galau”an mereka sebagai bagian civitas akademika FEUI non-mahasiswa saya iseng berbicara liburan (niatnya sih iseng dan buat mereka iri). eh ternyata ada juga yang merespon, Septian (mahasiswa akuntansi, 2008) dan Enggar (mahasiswa akuntansi, 2009). Dengan semangatnya mereka menyatakan, “OK, Ayo abis selesai ujian kita liburan!” hmm, awalnya sih bingung ingin pergi kemana, sempat tercetus ide untuk pergi ke Sawarna atau Ujung Genteng, hingga akhirnya dengan spontan saya menyebut “KARIMUN JAWA”

Sepakatlah kami untuk berangkat ke sana tepat di akhir minggu UTS. Berhubung saya satu-satunya makhluk tersisa yang tidak disibukkan dengan ujian, yah terpaksa saya yang harus mengurus persiapan perjalanan -_-. Saya pun akhirnya mengajak dua orang teman seangkatan saya lainnya untuk bergabung, Gifar dan Fazri, yup alhamdulillah mereka sangat bersemangat untuk ikut :)

Tak terasa H-1 minggu menuju waktu yang disepakati. Dan kami pun sebenarnya belum benar-benar menyiapkan perjalanan ini. Setelah mencari-cari informasi perjalanan ke Karimun Jawa tampaknya telah diputuskan sebaiknya kami menggunakan jasa tour. Selain lebih efisien dan praktis setelah dihitung-hitung secara biaya pun jauh lebih murah karena kami hanya pergi ber-5. Ketemulah sebuah tour hasil hunting saya dan Enggar di Kaskus, tanpa pikir panjang kami hubungi dan akhirnya pihak tour pun setuju walaupun kami cuman ber-5 (padahal disyaratkan minimal 10 orang untuk harga yang kami peroleh^^). Yah apa mau dikata, 2 hari menjelang keberangkatan tiba-tiba 2 teman saya membatalkan untuk ikut karena ada urusan mendadak, dan karena itu pun pihak tour mengatakan tidak bisa memberangkatkan bila kami cuman ber-3. Hmm, akhirnya kami sepakat untuk tetap berangkat dan menggantunkan pada nasib.

Ternyata Tuhan berkehendak lain, H-1 sebelum keberangkatan saya menemukan tour yang lebih murah dan ternyata dapat menampung kami :) . Tenanglah perasaan ini, karena awalnya agak ragu juga kalau harus nekad berangkat tanpa tour. Sesuai rencana saya dan Gifar berangkat menuju Karimun Jawa melalui Semarang menggunakan Kereta Api Bisnis Senja Utama Semarang (Enggar kebeneran sedang di Jogja). Awalnya sih kami berencana menggunakan kereta ekonomi, tetapi setelah dipikir-pikir kami berangkat cuman berdua, agak rawan juga. Mau pakai bus, rekan saya yang satu ini tidak kuat diperjalanan (nantikan kisah serunya mabuk terparah yang rekan saya alami ini,, hehe). Kami sengaja berangkat 1 hari lebih awal dari jadwal tour kami, karena sengaja ingin jalan-jalan dulu di Kota Semarang :P

Yah sambil tunggu kereta saya iseng-iseng ambil foto di Stasiun Jatinegara :)

Makan Malam di Jatinegara

St. Jatinegara di senja hari :)

Selepas Isya, kereta kami datang..yah walaupun sedikit ngaret, yang penting berangkat lah, haha. Di dalam kereta hal yang saya lakukan: memeriksa berkas quiz yang saya  bawa, ngemil, foto2 dan akhirnya tidur. Paling menyebalkan itu di Cirebon, saat enak-enaknya tertidur masuklah berpuluh-puluh orang yang menawarkan barang dagangan sambil berteriak2…waduh. Ini hasil jepretan saya: suasana di KA Senja Utama Semarang

Senja Utama Semarang

suasananya sih cukup padat berhubung kami berangkat menjelang akhir pekan.

tak terasa perjalanan sekitar 8 jam telah terlalui akhirnya kami sampai di Stasiun Tawang Semarang. Yah walau kedatangan kereta terlambat 1/2 jam dari jadwal yang tertera di tiket, tetapi kami senang sih waktu tunggu kami di stasiun berkurang. Bingung juga kan harus pergi kemana jam-jam segini -_-

Kereta Senja Utama Semarang

Stasiun Tawang = Stasiun Gudang

Menunggu selalu menjadi aktivitas yg paling tidak saya sukai. Apalagi di stasiun yang menurut saya membosankan ini. Bingung melakukan apa akhirnya saya tertidur pulas hampir 1 jam di atas bangku-bangku besi Tawang. Selepas shalat Shubuh akhirnya kami pun keluar stasiun, yah seperti biasa para penyedia jasa transport lokal dengan sigap menawarkan jasanya kepada kami. Kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, sekalian berkeliling kota Semarang, karena dari peta yang kami bawa nampaknya banyak tempat-tempat menarik untuk dikunjungi.

to be continued….Berkeliling kota Pemuda by walk :D

May 5, 2011 Posted by | My Small Step Around the World | Leave a Comment

Pengelolaan Kredit Usaha Rakyat Berbasiskan Pembiayaan Non-Bunga

Kredit usaha rakyat (KUR) yang dicanangkan pemerintah dalam rangka menggerakan sektor riil merupakan angin segar bagi pemberdayaan dan pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Pemerintah mengharapkan melalui penyaluran dana ini kepada sektor rill terutama melalui UMKM yang secara langsung bersentuhan dengan masyarakat akan memiliki dampak yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selama ini mungkin sudah bukan rahasia umum bila industri perbankan banyak yang hanya mengendapkan dana nasabah yang dimilikinya pada instrumen sekuritas terutama surat berharga negara bukannya disalurkan kepada sektor riil sesuai dengan fungsi utama bank sebagai lembaga intermediasi. Beberapa bank yang dipercaya pemerintah untuk penyaluran dana ini antara lain Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Mandiri, dan Bank Koperasi Indonesia (Bukopin), dan Bank Syariah Mandiri (BSM).[1]

Secara umum pelaksanaan program ini mendapatkan jaminan dari Pemerintah yang telah menganggarkan Rp 14,5 Triliun yang disimpan di PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) dan Perum Sarana Pengembangan Usaha. Dalam penyalurannya, bank pelaksana diberikan kebebasan untuk melakukan penilaian kelayakan atas calon debiturnya asalkan tidak menyimpang dari persyaratan yang diberikan pemerintah untuk program ini yaitu nilai maksimal pembiayaan Rp 500 juta per debitur, bunga maksimal 16% efektif per tahun, pembagian risiko 70:30 untuk pemerintah dan bank pelaksana, dan tentunya bersifat tanpa agunan karena telah mendapat jaminan pemerintah.[2] Hal yang menarik di sini adalah persyaratan bunga maksimal 16% efektif per tahun di mana persyaratan ini tentunya memiliki perlakuan berbeda bagi bank pelaksana yang tidak menerapkan sistem bunga yaitu Bank Syariah Mandiri dan unit-unit usaha syariah bank-bank lainnya antara lain BNI Syariah, BRI Syariah, BTN Syariah, dan Bukopin Syariah.

Dana sejumlah Rp 14,5 Triliun dapat dikatakan bukanlah jumlah dana yang besar untuk membiayai dan mengembangkan seluruh UMKM yang ada di Indonesia, tetapi bukanlah dana yang kecil pula bila harus lenyap begitu saja akibat pengelolaan yang kurang memerhatikan kehatihatian. Sebagai program yang memang bertujuan untuk memberikan akses kepada pengusaha mikro, kecil dan menengah yang selama ini sulit memperoleh pembiayaan dari bank (nonbankable) akibat tidak memiliki kriteria terutama collateral (jaminan), memiliki dampak yang serius bila gagal diterapkan terutama berhubungan dengan masalah kepercayaan. Risiko gagal tersebut kami mengidentifikasi secara umum disebabkan dua hal utama yaitu pertama masalah moral hazard debitur yang mengetahui bahwa dana yang dipinjamnya dijamin oleh pemerintah, dan kedua adalah kesalahan sistemik yang terjadi dalam penyaluran dana tersebut entah yang muncul dari sumber daya manusia pengelola atau memang sistem itu sendiri yang menjadi penyebabnya. Bila kita membahas masalah bagaimana untuk mengurangi moral hazard yang terjadi kemungkinan besar jawaban yang muncul adalah hal tersebut kembali kepada kepribadian debitur dan bagaimana peran penilaian dan pengawasan yang dilakukan telah dijalankan sesuai dengan prosedur. Namun, terhadap permasalahan kedua dapat diperoleh jawaban yang lebih positif.

Mungkin isu terhangat yang menghiasi layar berita ekonomi bisnis atau media-media cetak salah satunya adalah kasus pailitnya bank investasi terbesar ke-4 di Amerika Serikat yaitu Lehman Brother dan masalah krisis keuangan yang menimpa institusi keuangan besar lainnya akibat subprime mortage atau kredit kepemilikan rumah berisiko. Lalu, apa hubungannya dengan penyaluran kredit usaha rakyat di Indonesia? Selain itu akan tampak membandingkan gajah dengan semut bila melihat dana yang ada. Permasalahnnya bukanlah pada seberapa besar atau apa yang dikelolanya, tetapi sistem apa yang melatarbelakangi pengelolaan tersebut. Seperti apa yang telah kami sebutkan sebelumnya bahwa salah satu kemungkinan kegagalan program ini adalah memang sistem dibaliknya. Baik kasus subprime mortage dengan penerapan kredit usaha rakyat di Indonesia memiliki kesamaan penggunaan basis bunga. Mengapa demikian? Ilmu ekonomi sendiri telah menjawabnya bahwa bunga memiliki hubungan yang terbalik dengan tingkat investasi atau dapat dikatakan aktivitas sektor riil. Pengenaan bunga pada dasarnya mendahului kapasitas yang terjadi di sektor riil, sifat bunga yang predetermined bertolak belakang dengan produktivitas yang adakalanya tinggi maupun rendah. Akibatnya di kala debitur dalam produktivitas yang rendah entah disebabkan faktor internal atau faktor eksternal yang kurang kondusif kemampuan mereka untuk memenuhi kewajiban berkurang, apalagi usaha berskala kecil-menengah memiliki tingkat fluktuasi usaha yang relatif tinggi, dan di sinilah biasanya menjadi penyebab munculnya kredit macet.

Sebagai contoh UMKM pengrajin gerabah di Yogyakarta dan pengrajin kain tenun ikat di Lamongan lebih mengandalkan uang muka dari pelanggannya untuk membiayai usaha padahal bila dapat dukungan dana luar, usaha mereka tentunya lebih dapat terdongkrak (leverage)sesuai dengan konsep manajemen keuangan yang dikenal.[3] Alasannya mereka tidak mau terlilit hutang yang dikhawatirkan akan membebani mereka dengan bunga yang cukup tinggi. Hal tersebut tentunya dapat mengurangi efektifitas dan daya serap dana program serta menimbulkan ketidakmerataan distribusi penyaluran. Sebagai akibat sasaran utama penyaluran yaitu terutama pengusaha mikro tetap tidak merasakan program yang memiliki tujuan mulia ini. Namun, bukan berarti kelompok seperti itu tidak dapat memperoleh akses pembiayaan bank. Mungkin hal inilah yang menjadi dasar pemerintah turut menggandeng perbankan syariah dalam penyaluran kredit usaha rakyat yaitu memberikan alternatif bagi kelompok usaha mikro, kecil dan menengah dalam memilih skema pembiayaan usahanya dan melayani kelompok usaha loyalis emosionalis[4].

Dalam perbankan syariah dikenal beberapa jenis kontrak yang dapat diterapkan berupa kontrak jual beli (murabahah), sewa (ijarah), jual beli tangguh (salam), perserikatan (musyarakah/mudharabah). Bila kita mengidentifikasi persyaratan yang diberikan pemerintah dan kondisi debitur atau pengusaha kontrak yang paling tepat digunakan adalah kontrak perserikatan. Penggunaan kontrak jual beli atau sewa hanya akan berdampak sama untuk usaha produksi karena terdapat predetermined income berupa margin penjualan atau biaya sewa yang mirip. Penggunaan kontrak perserikatan lebih tepat karena tidak adanya predetermined income sehingga lebih jelas membedakan dengan kontrak berbasiskan bunga dan bank pengelola tetap memiliki hak akses terhadap usaha yang dijalankan nasabah.

Penggunaan kontrak perserikatan ini memiliki keunggulan dibandingkan kontrak yang bersifat predetermined income. Bagi nasabah/UMKM sendiri penggunaan kontrak ini menghindari dari risiko yang lebih besar saat kemampuan usahanya menurun tanpa dibebankan biaya tetap (FC) berupa bunga, selain itu UMKM akan memperoleh pengarahan teknis dan peningkatan kemampuan yang diberikan bank sebagai konsekuensi dari kontrak yang dibuat tanpa membebankan UMKM karena menjadi tanggung jawab bank, serta insentif untuk meningkatkan produktifitas yang lebih tinggi dibandingkan insentif penggunaan bunga. Di sisi lain, bagi bank yang memberikan pembiayaan penggunaan kontrak jenis perserikatan ini meningkatkan potensi penghasilan dari usaha yang dibiayai seiring meningkatnya produktivitas UMKM tersebut, pengawasan yang lebih mudah karena akses terhadap usaha yang dibiayai merupakan suatu keharusan sehingga diharapkan mengurangi tingkat pembiayaan yang gagal dan moral hazard dari nasabah, serta mendiversifikasi aset yang dimiliki dari ketergantungan dan risiko fluktuasi suku bunga.

Berdasarkan data yang kami peroleh dari Bank Indonesia tingkat pembiayaan yang diberikan perbankan syariah mencapai rata-rata lebih dari …..(sekitar 95%) dengan tingkat pembiayaan macet berkisar …..(sekitar 3-4%) hal tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan perbankan syariah dalam menganalisa nasabah yang diberikan pembiayaan sudah cukup baik sehingga penetrasi pembiayaan yang dilakukan perbankan syariah sangatlah tinggi seiring dengan pertumbuhan aset tidak menimbulkan permasalahan walaupun kontrak yang digunakan memiliki risiko yang tidak kecil. Hal tersebut didukung bahwa sasaran pembiayaan selama ini terkonsentrasi di sektor UMKM yang secara sosiologis memiliki tingkat kepatuhan yang lebih baik dalam memenuhi tanggung jawabnya.

Kurang disadarinya berbagai manfaat penggunaan pembiayaan non-bunga yang ditawarkan merupakan konsekuensi logis akibat masih terbatasnya akses masyarakat terhadap perbankan syariah yang bila dibandingkan dengan perbankan konvensional sangatlah jauh perbedaan pangsa pasarnya[5]. Hal tersebut seharusnya menjadi tantangan bagi pihak perbankan untuk mengatasi hal tersebut. Berikut rekomendasi yang kami sampaikan berkaitan dengan mengoptimalkan mediasi sektor UMKM terhadap pembiayaan non-bunga yang ditawarkan perbankan syariah:

  1. Mengingkatkan sosialisasi dan informasi berkenaan dengan skim/kontrak pembiayaan yang ditawarkan perbankan syariah kepada sentra-sentra UMKM.
  2. Mengoptimalkan kebijakan Office Channeling perbankan syariah bagi bank penyalur KUR yang telah memiliki UUS yaitu BNI, BTN, BRI dan Bukopin, sehingga diharapkan akses UMKM yang sebagian besar belum memiliki hubungan langsung dengan perbankan syariah dapat terlayani dengan baik.
  3. Asistensi langsung terhadap UMKM dalam memillih pembiayaan usahanya terutama memastikan jenis kontrak yang terbaik baginya sehingga manfaat pembiayaan perserikatan dapat benar-benar dirasakan.
  4. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia perbankan syariah yang melayani nasabah UMKM dalam penggunaan kontrak perserikatan.
  5. Peran regulator sendiri sangatlah dibutuhkan secara spesifik dengan melonggarkan tingkat kolektibilitas yang dijadikan basis perhitungan non performing bagi pembiayaan non bunga sehingga perbankan syariah dapat lebih percaya diri dalam menyalurkan .

Diharapkan dengan penerapan pembiayaan berbasiskan perserikatan akan meningkatkan efektifitas penyaluran KUR kepada kelompok usaha mikro, kecil dan menengah. Yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan produktivitas masyarakat dengan tersedianya lapangan pekerjaan untuk kemudian mengurangi tingkat kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan yang tentunya memiliki pengaruh terhadap perekonomian makro.


[1] Zumar, Dhorifi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat, Efektifkah?. http://www.kabarindonesia.com/berita.php.htm. (22 Sep 2008)

[2] Manajemen Koperasi. Skema Penyaluran Kredit Usaha Rakyat. http://manajemen-koperasi.blogger.com/2008/09/skema-penyaluran-kredit-usaha-rakyat.html (22 Sep 08)

[3] Zumar, Dhorifi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat, Efektifkah?. http://www.kabarindonesia.com/berita.php.htm. (22 Sep 2008)

[4] Loyalis emosionalis merupakan kelompok nasabah yang mengutamakan aspek emosional (terutama kepercayaan/agama) dalam mengambil pilihan. Selain itu ada kelompok loyalis rasionalis yang lebih mementingkan aspek keuntungan yang diperoleh.

[5] Berdasarkan posisi bulan Agustus 2008 pangsa pasar perbankan syariah mencapai 2,11% terhadap pangsa pasar keseluruhan perbankan di Indonesia.

May 3, 2011 Posted by | Islamic Economics | Leave a Comment

Value and Understanding: the Role of Youth in Utilizing Technology for a Better World

“Why is this beautiful science, which saves work and makes life easier, just take very little happiness? Science is supposed to liberate us from spiritually exhausting work but in fact makes human beings as slaves of the machine. The simple answer is because we have not yet learned how to use it appropriately.” (Albert Einstein, 1879-1955)

When speaking about the development of the ages, It feels incomplete if we do not discuss the development of technology. Our life, this time onwards, will always be surrounded by many kind of technologies which the existence to facilitate us. On the other hand, our daily humanity activities are application of science and technology both intentionally and unintentionally developed. Technologies that facilitate human life evolved along with the development of mankind needs which is also supported by the development of scientific and knowledge. At the Stone Age, the first technology was a sharp stones used to assist human in processing foods and making clothing. In the period after Industrial Revolution, human developed the technology to be used in mass production and show dominance over nature. However, in this modern era, the development of technology is not limited neither to help fulfilling basic needs nor for mass production purpose. The developing technology allows human to interact without boundaries as well as to explore the Outer Space. They are manifestation of human need for resource efficiency (cost, time, or space) and unlimited conquest to the new stage (growth).

I am among those who believe that everything that exists on this earth was created in pairs. Like a coin with two different sides, the existence of any technologies has a positive side and a negative side. In addition to ease of human life, the existence of technology also can be destructive to human itself. Who would have thought that the development of atomic technology could be used to burn Hiroshima and Nagasaki in Japan which cause thousands of victims and had further implications because of its radiation effects? Or I think the Wright Brothers had never imagined that, after a hundred years, their innovation in realizing people’s dream to fly turned into a pair of destroyers which used by terrorist networks to destroy a twin skyscrapers in the 911 tragedy in the United States.

It is true that technology is developed using intelligence and rational. But they are not enough, they just meet a basic requirement (necessary condition) in the usage of technology. We need also affection and values which form the ethics as a condition of completeness (sufficient condition) in empowering technology for human kind. Intelligence and rational are only worked to decide the possibility in achieving a goal, but they cannot assess the appropriateness of the decision. For example, rationally the existence of nuclear technology for mass destroying weapons are not to blame, but from value’s point of view, we can assess that the use of nuclear for destructive purposes cannot be justified. Nuclear technology shoud be develop for more useful things such as power plants in order to meet the areas that still lack of electricity like in the Africa or India.

Then how is the role of youth in meeting the challenges associated with the use of technology? I am sure that youth have an important position in various issues that exist especially in the relation to the use of technology for human life. There are at least two reasons, the first one is in the future youth will become a leader who will make policies and lead the direction of the world. The second, the era will be faced when they lead has different and more developed technological capacity than the present. As implication, the era has new problems that need be solved with at least a level higher technology. Therefore, it is make sense that youth should prepare as best as possible ourselves so when the time comes, we will be wiser in taking a policy and not repeat some mistakes made in the previous periods by our predecessors.

Some things can be done by youth to prepare themselves in facing their tenure. The First, youth must always follow and understand the various progress related to technology and human development issues. Second, not only limited to care and know, youth should also improve the capability in terms of knowledge, scientific and development through research to acquire new technologies that can benefit the lives and solve various problems faced. The last but not least, improve intercultural or mutual understanding among civilizations to reduce misunderstandings that can lead to either intercultural or intercommunity conflicts. Mutual understanding can be formed by building crosscultural communication and dialogues through forums, internet, mass media, as well as cultural exchange missions. As a follow-up action, cooperation can be carried out in various fields which involving young men or women from various backgrounds to collectively take part in solving joint problems.

In conclusion, various problems related to the use of technology and the creation of peace are very closely related to the consciousness of all mankind in utilizing the technology itself. There is nothing wrong with the technology as long as it can be empowered appropriately and fairly. The party that can determine the appropriateness of the use of technology is man himself, and the value or ethics are needed as a guidance to determine such appropriateness. The role of youth is very important to get involved because youth today are candidates for a world leader at least in a couple decade. To ensure these youths have a positive outlook towards the use of technology, a human resources development for creating integrity and an adequate understanding is needed. It is expected that with the availability of human being with a better understanding of each other, the use of technology can be performed on the positive side and supports some efforts to achieve a peace in the world.

Translate of “Peran Nilai dan Pemuda dalam Pemanfaatan Teknologi untuk Kehidupan Manusia”

April 30, 2011 Posted by | Random Thinking | Leave a Comment

Peran Nilai dan Pemuda dalam Pemanfaatan Teknologi untuk Kehidupan Manusia

“Why is this beautiful science, which saves work and makes life easier, just take very little happiness? Science is supposed to liberate us from spiritually exhausting work but in fact makes human beings as slaves of the machine. The simple answer is because we have not yet learned how to use it appropriately.” (Albert Einstein, 1879-1955)

Bila berbicara perkembangan zaman tidak lengkap rasanya kalau tidak membahas perkembangan teknologi. Kehidupan kita saat ini dan seterusnya akan selalu dikelilingi oleh berbagai teknologi yang esensi keberadaanya untuk mempermudah kehidupan manusia. Di sisi lain kemanusiaan sehari-hari merupakan terapan ilmu dan teknologi, baik yang dikembangkan secara sadar maupaun tidak. Teknologi yang mempermudah kehidupan manusia berkembang seiring dengan perkembangan kebutuhan umat manusia yang juga didukung oleh perkembangan kapasitas keilmuan dan pengetahuan manusia. Pada zaman Batu, teknologi pertama yang ditemukan adalah batu tajam atau runcing yang digunakan untuk membantu aktivitas manusia dalam mengolah makanan dan membuat pakaian, atau pada zaman setelah Revolusi Industri dimana manusia mengembangkan teknologi yang digunakan untuk berproduksi massal dan menunjukkan dominasi terhadap alam. Namun, pada zaman Modern ini teknologi yang berkembang bukanlah sebatas untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok manusia, ataupun hanya sebatas produksi secara massal. Teknologi yang berkembang memungkinkan manusia untuk berinteraksi tanpa batas wilayah hingga menjelajah luar angkasa. Teknologi-teknologi yang berkembang saat ini merupakan perwujudan kebutuhan manusia akan efisiensi (cost) dan penaklukan-penaklukan (growth) yang tidak terbatas.

Saya termasuk orang yang meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini diciptakan berpasang-pasangan. Bak mata uang logam dengan dua sisi berbeda yang saling membelakangi, keberadaan teknologi pun memiliki  sisi positif dan sisi negatif. Selain dapat memudahkan kehidupan manusia, keberadaan teknologi pun nyatanya dapat bersifat destruktif terhadap kehidupan manusia itu sendiri. Siapa yang mengira pengembangan teknologi atom ternyata dapat digunakan untuk membumihangsukan Hiroshima dan Nagasaki yang menimbulkan ribuan korban bahkan berimplikasi panjang kepada keturunan dari korban yang terkena radiasi. Atau apakah mungkin Wright Bersaudara sempat membayangkan bahwa inovasinya dalam mewujudkan impian manusia untuk dapat terbang, ternyata 100 tahun lagi digunakan oleh jaringan teroris untuk menghancurkan sepasang pencakar langit dalam tragedi 911 di Amerika Serikat?

Memang benar teknologi itu dikembangkan menggunakan akal dan rasional. Tetapi akal dan rasional tidaklah cukup atau hanya menjadi syarat dasar (necessary condition) dalam penggunaan teknologi, dibutuhkan pula penggunaan hati dan nilai-nilai (values) yang membentuk etika (ethics) sebagai syarat kelengkapan (sufficient condition). Alangkah indahnya jika pemanfaatan teknologi didasarkan pada nilai-nilai unversal yang berlaku. Rasional hanya dapat membedakan mana yang benar dan salah, tetapi untuk menentukan mana yang pantas atau tidak pantas dilakukan hanya hati dan nilailah yang bisa menjawabnya. Sebagai contoh, secara rasional keberadaan teknologi nuklir yang digunakan untuk membuat senjata tidaklah dapat disalahkan, tetapi dari sudut pandang nilailah kita dapat menilai bahwa penggunaan nuklir tidak dapat dibenarkan untuk kemanusiaan. Teknologi nuklir yang dikembangkan akan lebih baik digunakan untuk mengembangkan pembangkit listrik sehingga dapat memenuhi wilayah-wilayah yang masih kekurangan listrik seperti di Afrika atau India.

Lalu bagaimanakah peran pemuda dalam menghadapi berbagai tantangan berkaitan dengan pemanfaatan teknologi? Pemuda memiliki posisi penting dalam berbagai isu-isu yang ada, terutama terkait pemanfaatan teknologi untuk kehidupan manusia. Setidaknya ada dua alasan, pertama di masa depan pemuda-pemuda yang ada saat ini merupakan generasi yang akan menjadi pemimpin dunia dan mengambil kebijakan-kebijakan di masa mendatang. Kedua, jaman yang dihadapi pemuda yang saat ini ada ketika mereka memimpin merupakan jaman dengan kapasitas teknologi yang jauh lebih berkembang dari masa sekarang dan tentunya dengan persoalan baru yang membutuhkan penyelesaian dengan teknologi yang berada setingkat lebih tinggi. Oleh karena itu, sudah selayaknya pemuda-pemuda yang ada saat ini menyiapkan diri sebaik mungkin agar pada saatnya nanti dapat mengambil kebijakan terkait pemanfaatan teknologi untuk kehidupan manusia dengan lebih bijak dan tidak mengulangi berbagai kesalahan yang dilakukan di masa-masa sebelumnya.

Beberapa hal yang dapat dilakukan oelh pemuda untuk menyiapkan diri menghadapi masa kepemimpinannya, pertama kita harus selalu mengikuti dan memahami berbagai perkembangan yang terkait dengan teknologi maupun pembangunan manusia. Kedua, tidak hanya sebatas peduli dan mengetahui, pemuda harus juga meningkatkan kapabilitas dalam hal pengetahuan, keilmuan maupun pengembangan melalui riset-riset untuk memperoleh teknologi baru yang dapat bermanfaat bagi kehidupan dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi. Ketiga, meningkatkan pemahaman antarbudaya atau peradaban sehingga mengurangi berbagai kesalahpahaman nilai yang dapat menyebabkan konflik antarkebudayaan atau  masyarakat. Pemahaman antarbudaya dapat dibentuk dengan membangun komunikasi dan dialog lintas budaya melalui media internet, forum-forum, maupun pertukaran misi kebudayaan. Sebagai tindak lanjut dapat dilakukan kerjasama dalam berbagai bidang yang melibatkan pemuda-pemuda dari berbagai latar belakang untuk bersama mengambil bagian menyelesaikan permasalahan yang dihadapi manusia.

Sebagai kesimpulan, berbagai permasalahan terkait pemanfaatan teknologi dan penciptaan perdamaian di dunia ini sangat erat terkait dengan kesadaran seluruh umat manusia dalam memanfaatkan teknologi itu sendiri. Tidak ada yang salah dari teknologi selama itu dapat dimanfaatkan secara tepat dan wajar. Pihak yang dapat menentukan kewajaran penggunaan teknlogi itu adalah manusia itu sendiri sebagai pihak yang memanfaatkannya. Peran pemuda sangat penting untuk terlibat karena pemuda yang ada saat ini adalah calon-calon pemimpin dunia dalam waktu yang tidak lama lagi. Untuk memastikan pemuda-pemuda ini memiliki pandangan yang positif terhadap pemanfaatan teknologi dibutuhkan dibutuhkan pula pengembangan sumber daya manusia yang memiliki integritas dan pemahaman yang memadai dalam pemanfaatan teknologi, selain tentunya pengembangan teknologi itu sendiri secara berkesinambungan. Diharapkan dengan tersedianya manusia-manusia di masa mendatang yang lebih memahami dan memiliki pemahaman menyeluruh sesamanya pemanfaatan teknologi dapat dilakukan pada sisi positif yang dimilikinya dan mendukung upaya tercapai kedamaian di dunia.

Midnight @ Darma Putra, Courtesy for 22nd IYF

April 30, 2011 Posted by | Random Thinking | Leave a Comment

Penggerakkan Dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan untuk Pemberdayaan Masyarakat Miangas

Pulau Miangas, sebuah pulau yang merupakan bagian dari gugusan kepulauan Nusantara. Pulau yang merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara, tepatnya di kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud ini memiliki luas 315 hektar dan berpenduduk sekitar 750 orang atau 200 kepala keluarga. Secara geografis, pulau paling utara di Indonesia ini memang lebih dekat dengan salah satu negara tetangga yaitu Filipina yang hanya berjarak sekitar 20 mil dibandingkan ibukota kabupaten yang berjarak sekitar 90 mil apalagi kota Manado yang berjarak sekitar 274 mil. Sebagai implikasinya kehidupan masyarakat di Miangas lebih banyak berinteraksi dengan masyarakat Filipina, bahkan mata uang Filipina, peso, sudah biasa digunakan serta bahasa Tagalog pun banyak pula yang menggunakannya.

Secara politis, tidak dipungkiri pulau Miangas mutlak di bawah kedaulatan Indonesia, tetapi secara perekonomian kehidupan masyarakat Miangas lebih erat berhubungan dengan penduduk Filipina. Akibatnya, keterikatan mereka terhadap Indonesia yang diwujudkan dalam bentuk rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap Indonesia yang lemah. Maka, mutlak diperlukan upaya nyata untuk memberdayakan kehidupan masyarakat Miangas khususnya dalam bidang perekonomian baik oleh pemerintah secara langsung maupun dukungan pihak-pihak swasta untuk meningkatkan kembali kebanggaan mereka terhadap Indonesia.

Mahasiswa sebagai agent of change dan iron stock bangsa ini, perlu memainkan peran strategisnya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Dalam hal ini, isu yang dihadapi bangsa dalam mengokohkan kedaulatan di wilayah Miangas hendaknya menjadi bagian yang juga perlu mendapat perhatian. Sebagai bagian dari civitas akademika, tentunya peran strategis yang diperankan oleh mahasiswa tidak bisa terlepas dari sisi akademis dan tataran teoritis yang dapat mendukung dan menguatkan pengambilan keputusan di tataran praktis. Selain tentunya berperan dalam tataran teoritis, mahasiswa perlu memainkan upaya diplomatis dan persuasif untuk mendukung penyampaian dan pengimplementasian apa yang dihasilkan di lingkungan kampus dengan memanfaatkan jaringan dan daya tawar yang dimiliki.

Dalam memberdayakan masyarakat Miangas, mahasiswa dapat melakukan kajian-kajian dan penelitian-peneltian berbasiskan observasi langsung untuk mengetahui potensi perekonomian yang dimiliki pulau Miangas, sehingga dapat ditentukan langkah yang tepat untuk mengembangkan kehidupan perekonomian di Miangas. Pengimplementasian hasil penelitian dapat dilakukan dengan memanfaatkan pihak yang memiliki sumber daya , salah satunya memanfaatkan peran perusahaan. Mahasiswa dapat mendorong dan menjadi intermediari antara masyarakat Miangas dengan kalangan pengusaha. Mahasiswa dapat mempersuasi dan mendorong kelompok pengusaha tertentu dalam menyalurkan sebagian dana mereka untuk pemberdayaan masyarakat Miangas, sebagai contoh menggerakkan kelompok pengusaha yang berasal dari Sulawesi Utara atau perusahaan yang memiliki dana khusus untuk menyelurkannya sebagai dana Corporate Social Responsibility (CSR) khusus untuk masyarakat Miangas.  Dana yang diperoleh untuk masyarakat Miangas ini dapat dikelola berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan kalangan mahasiswa.

Mengapa harus melalui jalur pengusaha? Dikarenakan perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini dihadapkan pada Undang-undang Perseroan Terbatas (UU PT) yang mewajibkan perusahaan khususnya pada bidang pertambangan dan telekomunikasi untuk mengadakan program tanggung jawab sosial perusahaan. Tentunya dengan cukup banyaknya perusahaan yang ada di Indonesia saat ini, potensi yang dana yang dapat dihasilkan sangatlah besar. Bila dana yang besar tersebut dapat disalurkan dan dimanfaatkan dengan baik, akan dapat membawa manfaat yang besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pasalnya, saat ini belum ada mekanisme yang baik dalam pengelolaan dana sosial perusahaan. Perusahaan sejauh ini mengelola dan menyalurkan dana berdasarkan preferensi mereka, sehingga penyaluran dana sosial perusahaan diduga tidak menunjukkan pemerataan dan hanya terpusat di wilayah-wilayah tertentu. Oleh sebab itu, penggerakan dan intermediasi dengan mahasiswa akan sangat membantu perusahaan dalam menyalurkan dana ke wilayah yang membutuhkan dengan program pemberdayaan yang terarah, seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat Miangas ini.

Selain alasan tersebut, terbatasnya sumber dana yang dimiliki pemerintah menjadi alasan lain diperlukannya dukungan pihak swasta. Dikarenakan perusahaan-perusahaan diatur oleh standar-standar tata kelola perusahaan yang ketat terutama dalam pelaporan keuangan, maka perusahaan umumnya mengawasi dan membuat pengendalian yang terhadap pengelolaan dana yang mereka salurkan sehingga pertanggungjawaban publiknya lebih jelas. Sebagai implikasi, pemberdayaan masyarakat yang didanai dana sosial perusahaan ini pun akan menunjukkan kualitas yang lebih baik dan terukur, dibandingkan bila dikelola pemerintah yang umumnya tingkat transparansi yang masih rendah. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bagi mahasiswa untuk memberikan saran dan tekanan kepada birokrat dalam menentukan prioritas pembangunan yang perlu dijalankan dalam mengembangkan kehidupan masyarakat Miangas.

Pengelolaan dana sosial perusahaan untuk Miangas ini diperuntukkan tidak hanya untuk mengembangkan Miangas secara fisik tetapi perlu juga pengembangan dari sisi kualitas perekonomian masyarakat, seperti peningkatan kapasitas sehingga aktivitas yang dilakukan masyarakat Miangas memiliki nilai tambah yang akan meningkatkan daya tawar mereka ketika berinteraksi dengan penduduk lain. Pemberdayaan masyarakat Miangas yang bersumber dari pembiayaan dana tanggung jawab sosial perusahaan dan berbasiskan hasil penelitian akademis ini dapat menciptakan suatu program yang terarah, terukur, berkesinambungan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Diharapkan dengan terperdayakan perekonomian masyarakat Miangas, kedaulatan Indonesia terhadap pulau Miangas menjadi kedaulatan yang menyerluruh di berbagai bidang kehidupan, serta menjadikan masyarakat yang sejahtera dan berdaya saing.

Memory: Outreach Program 2009, @ Miangas Island (Northern Most Part of Indonesia)

Go Miangas, Miangas Asik! Sekali lagi

April 28, 2011 Posted by | Random Thinking | Leave a Comment

The Role of Sukuk: Post Sovereign Sukuk Act in Attracting Middle East Investment in Indonesia

Abstract

In the middle of this year, DPR (House of Representative) authorized the UU No 19 tahun 2008 (UU Surat Berharga Syariah Negara) or Sovereign Sukuk Act.  Government motives to propose this kind of act is especially to attract liquidity from the Middle East in the form of project investments. The sukuk instrument has a great opportunity to be developed as an alternative for government in financing its development without any dependence to debt investment form. The problem will exist when the issuing of this instrument depends on some part of foreign investor, which worried as kind of geopolitical startegies. This paper analyze what the impacts of the Middle East investment using the sukuk instrument in Indonesia related to its role for national developments. This paper is correlated with the international investment theories which give some views from political, macroeconomic, cultural, social and financial sector.

This is an abstract for a paper which was presented marked as the best paper in Global Business Subject (short semester 2008) in FEUI.

Special thanks to Mr. Edward Tanudjaja, my teammates: M. Rifqi and Firdaus

If you want a soft copy of the full paper (in Bahasa Indonesia), please contact me.

April 26, 2011 Posted by | Islamic Economics, Random Thinking | Leave a Comment

Apply Visa China @ Jakarta

Bismillah

huaaaa, hari yang cukup melelahkan. Berjibaku dengan derasnya hujan di Jakarta dan padatnya KRL ekonomi, tapi gak sia-sia kok, alhamdulillah aplikasi visa China akhirnya masuk. Agak lucu juga sih ngebayangin tadi siang, gara-gara payung yang ternyata tertinggal di tas lain harus nerusin pake angkot untuk neduh doang (tepatnya di jembatan penyebrangan di depan Stanchart Building), lalu kemudian nyebrang untuk naik angkot yg sama ke arah sebaliknya. Tetep aja sih keujanan pas turun di ITC Kuningan untuk bei payung :( …lebih menyebalkan setelah pakaian basah yg gak karuan itu, keluar dari masukin aplikasi visa ternyata hujannya jadi kecil!! (tau gitu kan nunggu bentar)

Sebenernya agak dag dig dug juga waktu mau apply visa ini. Kebeneran sebelumnya sempat apply visa Belgia dan sayangnya karena terlalu mepet dari jadwal keberangkatan akhirnya terpaksa mengurungkan niat berangkat karena visanya gak keluar-keluar :( . yah bisa dibilang trauma lah, haha. Susah juga menjadi pemegang paspor Hijau Garuda, dibandingin rekan-rekan kita dari negara kecil berpenduduk 4jt orang-an yang sebagian besar negara di dunia menerima mereka untuk masuk tanpa perlu visa…

Sebisa mungkin saya mempersiapkan dan mencari informasi sebanyak mungkin terkait pembuatan visa ini. Dapet informasi yang beda-beda juga sih terutama tentang persyaratan, mulai dari nyebutin harus pake rekening minimal 20jt lah, tiket PP lah, ini lah, itu lah yang semuanya makin nambah ketakutan sendiri. wew. Yah akhirnya memang informasi paling akurat berasal dari situs resmi pemerintah mereka deh. Jadi  cek aja syarat-syarat menurut

http://id.china-embassy.org/indo/

sih syaratnya cuman Paspor, Photo (1) dan Formulit aja…hmmm gak percaya juga nih masa se-simple itu sih !! Sampai akhirnya nemu alamat satu link baru di

http://www.visaforchina.co.id

akhirnya dipelajari tuh proses aplikasi visa China dari situs itu. Jadi gini nih prosedurnya:

sekarang aplikasi visa umum (kebeneran saya mau apply visa turis (tipe L)) ke China tidak lagi langsung ke Kedutaan besar China. Prosesnya sekarang melalui sebuah institusi (tepatnya perusahaan, karena sempat lihat berbadan hukum “PT.” beuh) bernama Chinese Visa Service Application Center. Institusi ini letaknya tidak jauh kok dari Kedutaan China tepatnya di East Building Lt. 2 masih di kawasan Mega Kuningan.

Hal yang menyebalkan akibat dialihkan kepada institusi khusus mereka pun mengenakan biaya pemrosesan selain biaya visa yang dikenakan oleh pihak kedutaan. Kebeneran sih saya apply single entry seharga 300rb + jasa aplikasi 240rb, jadi yang harus dibayarkan sebesar 540rb. Biaya tersebut untuk proses normal alias 4 hari kerja. Bisa sih lebih cepat, yah tentunya dengan biaya tambahan, untuk lebih jelasnya, coba cek situs di atas :)

Dan bener loh ternyata syaratnya cuman

1. Paspor,

2. Photo (saya pakai ukuran 4×6) harus berwarna dan sebaiknya latar putih, dan

3. Formulir yang sudah diisi…

padahal udah nyiapin juga bookng tiket pesawat PP, bookin hotel, dll #songong tapi memang Visa Centernya cuman minta itu ^^ (Coba semua negara kayak gini buat ngurus visanya)

Untuk formulir bisa diisi secara online di situs tersebut atau ketika di Visa Center akan diberikan secara gratis untuk diisi secara manual. tapi menurut saya lebih praktis diisi online aja lalu kita print sendiri dan langsung bawa ke Visa Centernya. selain lebh efisien waktu juga hasilnya kan lebih rapih.

Oh iya kalo bacasecara detil di situs Visa Center, dikatakan bahwa kita harus buat appointment dulu untuk apply visa. Saya juga sempet bingung nih dengan yang satu ini. memang ada linknya, dan saya pun sempet coba tapi anehnya di tahap ketiga mentok, ga ada pilihan tanggal hanya muncul tulisan “Date not available”. BAhkan coba telpon ke Visa Centernya ga ada yang angkat. Walhasil, nekad deh berangkat dan ternyata bisa langsung dateng kok.

1. Jadi bawa aja dokumen2 tersebut ke Visa Center. Di sana prosesnya cepet kok, saat dateng akan langsung dikasih no antrian (kebeneran lagi sepi jadi dikasih no antrian eh langsung dipanggil nomornya).

2.trus di loket kasih tuh dokumen2nya dan nanti petugasnya bilang 4 hari lagi tepatnya hari apa diambil antara jam 9 sampai jam 15, sekaligus bayar biaya aplikasi secara tunai.

3. Jangan lupa untuk menerima bukti penyerahan dokumennya dan simpen itu baik2

Yah semudah itu prosesnya, perasaan gak ada 15 menit malah lama di jalannya…hoho

Semoga visanya bisa lancar nih, and LET’S EXPLORE THE GREAT WALL!!!!

Cost hari ini:

KRL Ekonomi St.UI – St. Tebet  = Rp 1.500

Mikrolet 44 (sampai Stanchart dari Tebet) = Rp 2.500

Mikrolet 44 (sampai ITC Kuningan dari Stanchart) = Rp 2.000

Mikrolet 44 (sampai St. Tebet dari Mal Ambassador) = Rp 2.000

KRL Ekonomi St. Tebet – St. Pancasila = Rp 1.500

January 5, 2011 Posted by | My Small Step Around the World | Leave a Comment

Am I a Leader?

Sebelum menjawab pertanyaan yang muncul pada judul tulisan ini, alangkah baiknya kita mengetahui apa itu leader (pemimpin). Beberapa teori kepemimpinan mulai dari Great Man theory hingga Transformational Theory memiliki bahasa yang beragam dalam mendefinisikan apa itu pemimpin. Great Man Theory mengatakan bahwa pemimpin itu adalah seseorang istimewa yang memang memiliki bakat kepemimpinan sejak ia dilahirkan, di sisi lain teori tranformasi (transformational theory) yang menekankan pada hubungan yang dibentuk antara pemimpin dan pengikutnya, pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang memotivasi dan menginspirasi orang dengan menolong sekelompok orang untuk melihat peran yang paling penting dan lebih besar. Pemimpin ini lebih menekankan pada kinerja kelompok juga menginginkan setiap anggota kelompok mengoptimalkan potensinya.

Berdasarkan pemahaman yang saya peroleh mengenai seorang pemimpin, saya menganggap pemimpin itu sebagai orang yang memiliki kemampuan dalam memengaruhi dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang memersatukan mereka. Seorang pemimpin tidaklah harus seorang superior secara individu atau sesesorang yang memiliki posisi tertentu dalam struktur organisasi melainkan orang yang dapat menginternalisasi kemampuan dan keunggulan dirinya sebagai kemampuan dan keunggulan organisasi atau kelompok. Pemimpin harus mampu mengorganisir berbagai keunggulan individu menjadi keunggulan kelompok dan saling menutupi berbagai kelemahan individu serta mengoptimalkan peluang yang ada untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi.

Bagi saya memimpin adalah sesuatu hal yang sangat tidak linier karena apa yang kita pimpin adalah sekumpulan manusia yang memiliki keragaman pikiran, perasaan bahkan nilai satu sama lain. Tidak akan ada satu teori manapun yang mampu menjelaskan dan bekerja secara efektif dalam memandu seseorang menjalankan kepemimpinannya. Untuk memimpin memerlukan koordinasi terbaik yang dimiliki seseorang untuk memanfaatkan kecerdasan intelektualnya, spiritualnya, emosionalnya, kemampuan fisiknya, hingga mengorbankan hal-hal yang bersifat materi. Koordinasi yang baik dari kemampuan individu yang dimiliki kemudian perlu diselaraskan dengan apa yang dimiliki oleh orang-orang yang mengikutinya. Dalam hal ini pemimpin haruslah memiliki takaran yang tepat dalam menentukan berbagai kebijakan dan tindakan yang akan diambil dengan mempertimbangkan keberagaman orang-orang yang dipimpinnya, jangan sampai pilihan yang diambil terlalu rendah sehingga mudah dicapai atau terlalu tinggi sehingga tidak mungkin dicapai, pilihan ekstrim keduanya tidak akan memotivasi orang-orang yang mengikutinya.

Seorang pemimpin yang baik haruslah dapat mengatur tonasi atau irama dirinya karena ia menyadari bahwa apa yang ia rasakan akan mempegaruhi kelompok secara keseluruhan. Irama ini juga menentukan bagaimana tingkat perhatian seorang pemimpin terhadap suatu permasalahan. Ia juga menyadari bahwa sumber daya utama yang dimilikinya, yaitu waktu, sangatlah terbatas dan inilah tantangan sebenarnya. Pemimpin harus melakukan pilihan terbaik yang dapat menghantarkan kelompok yang dipimpinnya mencapai apa yang dicita-citakan sebelum waktu tersebut habis. Pemimpin tidak pernah berpikir untuk melakukan trial and error karena konsekuensi dari kesalahan pengambilan keputusan dapat berakibat tidak tercapainya tujuan yang diharapkan. Untuk itu seorang pemimpin pun perlu memastikan bahwa ia mendapatkan kepercayaan yang terbaik dari orang-orang yang dipimpinnya dan kemudian menjaga kepercayaan tersebut. Kepercayaan terhadap pemimpin dapat dipertahankan bila seorang pemimpin lebih mendahulukan apa yang dapat ia kontribusikan kepada orang yang ia pimpin dibandingkan memperoleh keuntungan pribadi.

Menjawab pertanyaan dari judul di atas sungguhlah sulit, bagi saya pertanyaan tersebut bukanlah suatu pertanyaan yang dapat dijawab secara langsung tetapi perlu dijawab dengan tindakan nyata. Kepemimpinan adalah proses seumur hidup dengan berbagai cakupan sesuai dengan kapabilitas dan kesempatan yang dimiliki setiap orang. Saya rasa berbagai persyaratan menjadi seorang pemimpin yang baik tidaklah mungkin saya penuhi semuanya. Saya hanyalah orang yang memiliki berbagai keunggulan dan kelemahan, serta berusaha meningkatkan kemampuan dan kapasitas saya di atas keduanya. Saya dapat mengatakan, ya saya adalah seorang pemimpin, tetapi bukanlah pemimpin ideal atau sempurna, dan sangat tergantung cakupan kepemimpinannya. Saya mungkin seorang pemimpin bagi teman-teman saya karena mereka selalu mengikuti apa yang saya transfer kepada mereka, mereka selalu meminta saran dan arahan saya, tetapi saya belum menjadi pemimpin dalam cakupan keluarga karena memang saya belum berkeluarga. Saya adalah pemimpin bagi organisasi yang pernah saya pimpin karena dapat berhasil menyelesaikan berbagai tugas yang menjadi kewajiban saya dengan mengoordinasikan orang-orang yang terlibat untuk menyelesaikan hal tersebut, tetapi saya belum menjadi seorang pemimpin negara ini karena saya belum memiliki kesempatan untuk itu.

Ya, saya bisa memengaruhi dan menginspirasi sebagian orang untuk bertindak sesuai apa yang menjadi harapan bersama. Namun, saya belum merasa pemimpin karena saya masih belum dapat mengendalikan irama diri saya sehingga dapat menggerakan orang-orang tersebut mencapai kinerja terbaiknya, saya belum dapat sepenuhnya menentukan hal-hal utama yang dilakukan sehingga mengoptimalkan pencapaian tujuan yang diharapkan mengingat waktu yang kita semua miliki sangat terbatas. Saya pun terkadang belum mampu sepenuhnya mendelegasikan tanggung jawab kepada orang lain sehingga pekerjaan dapat dikerjakan dengan baik, atau mungkin tidak semua orang yang memiliki tujuan yang sama memberikan kepercayaan terbaiknya untuk diarahkan berdasarkan interpretasi yang saya gunakan. Orang-orang mendukung dan tertarik pemikiran yang saya miliki, tetapi belum tentu dia mau mengikuti pemikiran

Ya, saya memiliki kelompok, teman, peer groups, rekan, atau organisasi yang di antara kami memiliki visi atau tujuan yang sama (shared vision), memiliki nilai yang sama untuk isu-isu tertentu (shared value), dan memiliki pandangan atau menghadapi tantangan lingkungan yang sama (shared meaning), serta di dalamnya sayalah yang secara dipercaya untuk mengelola dan menggiring kami semua kepada apa yang kami harapkan. Tetapi, saya belumlah menjadi orang yang sepenuhnya dapat menanggalkan berbagai keperluan pribadi atau privat saya di atas kepentingan publik yang saya pimpin. Saya belumlah menjadi orang sepenuhnya tidak memikirkan kepentingan pribadi ketika melakukan tindakan atau mengambil kebijakan bahkan terkadang saya pun masih mengharapkan mendapat sesuatu dari apa yang saya pimpin. Tentu saja saya pun belum menjadi orang yang dapat membawa perubahan besar dari orang-orang yang saya pimpin.

Namun, saya meyakini saya adalah orang yang akan selalu berusaha lebih baik dari sebelumnya dan akan selalu berusaha meningkatkan potensi dan kapasitas diri. Saya adalah orang yang meyakini belajar merupakan proses seumur hidup yang harus saya jalani dari pengalaman-pengalaman yang saya lalui serta akan menjadi tambahan manuver saya dalam menajamkan berbagai keputusan yang dapat saya ambil. Saya adalah orang yang selalu senang dan tidak akan pernah bisa hidup sendiri karena senantiasa membutuhkan keberadaan orang lain. Saya adalah orang yang selalu ingin berbagi dan memberikan manfaat yang besar bagi orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya pun orang yang memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas sehingga dapat menjadi inspirasi dan benchmark bagi orang lain. Serta saya adalah orang yang mengetahui bagaimana cara menghargai upaya dan kontribusi orang lain walau itu hanya bisa diungkapkan dengan sebuah ucapan “terima kasih”. Saya akan menjadikan ini sebagai salah satu pertanyaan yang tersimpan dalam memori jangka panjang saya, sehingga saya dapat menemukan kebenaran jawabannya dalam diri sendiri saat saya berkesempatan terbangun di tengah realita kehidupan ini.

Sabtu, 19 Juni 2010 (Pukul 02.30 WIB)
Teguh Iman Maulana
Mahasiswa Berprestasi II FEUI tahun 2010
Departemen Akuntansi
Fakultas Ekonomi

Sebagai bagian dari “kehidupan” di Indonesia Leadership Development Program (ILDP) 2010 Universitas Indonesia

also posted on http://www.facebook.com/note.php?note_id=397885921228

January 5, 2011 Posted by | Random Thinking | Leave a Comment

Kota dan Partisipasi Masyarakat

Kota merupakan wilayah yang dianggap memiliki keunggulan tersendiri dengan berbagai ketersediaan fasilitas bagi masyarakatnya. Tersedianya berbagai fasilitas yang dinilai dapat menunjang kehidupan masyarakat tersebut merupakan daya tarik bagi penduduk di sekitarnya untuk datang ke kota mencari kehidupan yang lebih baik.

Berdasarkan Laporan UN Population Division (2007), pada tahun 2010 jumlah penduduk Indonesia yang bermukim di wilayah yang bercorak perkotaan mencapai 53,7%. Semakin besarnya jumlah penduduk perkotaan di Indonesia tidak terlepas dari peran desentralisasi fiskal yang memberikan keleluasaan setiap daerah untuk melakukan pembangunan sehingga perkembangan suatu wilayah bercorakkan perkotaan semakin cepat. Sayangnya saat ini, pembangunan perkotaan yang ada lebih menekankan pada pembangunan fisik tanpa memperhatikan pengembangan masyarakat perkotaan yang dinamis, kritis, konstruktif, dan berdaya saing. Padahal esensi keberadaan sebuah wilayah perkotaan seharusnya dinilai dari kualitas masyarakat yang bermukim di dalamnya tidak hanya sebatas ketersediaan fasilitas kota tersebut. Masyarakat perkotaan yang berkualitas haruslah memiliki keseimbangan dalam hal kemampuan intelektual, emosional spiritual, fisik, finansial/ekonomi, maupun sosial.

City

Kebijakan yang ada saat ini, pengembangan daerah-daerah perkotaan lebih mementingkan pembangunan fasilitas-fasilitas fisik seperti gedung-gedung pemerintahan yang sesungguhnya tidak memiliki nilai tambah signifikan bagi wilayah tersebut atau hanya bersifat artifisial. Kebijakan pengembangan perkotaan masih sangat minim dalam memerhatikan pengembangan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang dapat meningkatkan daya saing warganya, ruang publik yang memadai sehingga antarmasyarakat dapat berinteraksi dengan lebih baik, ruang hijau dan sanitasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup warganya, infrastruktur penunjang ekonomi masyarakat yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi, apalagi fasilitas-fasilitas yang dapat mewadahi penyaluran kreativitas warganya.

Kebijakan pengembangan yang tidak berpihak terhadap pembentukan masyarakat kota yang dinamis, kreatif, kritis dan berdaya saing akan berdampak pada rendahnya partisipasi warga terhadap pembangunan perkotaan atau bahkan menimbulkan sikap apatis. Hal ini sangat membahayakan kehidupan perkotaan yang berkelanjutan karena tanpa adanya partisipasi warga, transparansi dan akuntabilitas publik dari otoritas penyelenggara pemerintahan setempat tidak dapat berjalan. Akibatnya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan otoritas setempat hanyalah kebijakan berkualitas rendah yang digunakan sebagai kedok untuk menggerogoti keuangan daerah, menimbulkan kesenjangan dan penyimpangan sosial baru, dan dalam jangka panjang hanya akan menimbulkan suatu wilayah yang dinilai gagal (failed city). Menyadari besarnya potensi kota-kota di Indonesia menuju wilayah yang dinilai sebagai kota gagal, sudah selayaknya masyarakat untuk berperan aktif mengawasi dan mengingatkan pemerintah setempat atas kebijakan pengembangan yang dikeluarkan. Kita harus terus mendorong dan memastikan diri kita selalu bersikap kritis konstruktif terhadap berbagai kebijakan pengembangan perkotaan yang ada di sekeliling kita. Kita tidak boleh segan untuk menuntut hak-hak kepada otoritas setempat dalam menyediakan fasilitas-fasilitas yang lebih memanusiawikan dan memenuhi kebutuhan warganya. Tidak ada alasan bagi suatu penyelenggara kegiatan untuk tidak memerhatikan kepentingan warganya. Kepercayaan dan kontribusi (pajak) yang diberikan kepada seorang penyelenggara daerah memang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat setempat bukan untuk memperkaya pihak yang diberikan kepercayaan.

August 12, 2010 Posted by | Random Thinking | Leave a Comment

NTU, NUS, and See You Singapore (12-01-09)

Kami telah mencapai hari ketiga perjalanan. Masih di Singapore, dan ini akan menjadi hari terakhir kami di sini. Rencananya hari ini kami ingin mengunjungi kampus NTU dan NUS. Ya bagaimanapun juga karena kami masih mahasiswa tidak afdol rasanya kalau berkunjung ke tempat orang tanpa mengunjungi kampus terkemuka di wilayah itu. Kali ini kami berangkat lebih pagi, dan pertama kami akan mengunjungi NTU. Tidak sulit ternyata menuju kampus NTU, dari tempat kami menginap kami cukup menuju Clementi Interchange menggunakan bus 282, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan MRT east west line ke arah Boon Lay. Lalu, kami turun di stasiun Boon Lay dan melanjutkan dengan menggunakan bus no 196 yang lengsung menuju Kampus NTU. Saat itu karena pagi hari, terutama saat akan  menggunakan bus 196 antrian sangat panjanggggggggggggg, mereka adalah mahasiswa/i yang berkuliah di NTU, tetapi karena keteraturan mereka ternyata tidak lama kok kami kemudian mendapatkan bus yang akan membawa kami ke NTU.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah NTU Business School. Karena kami anak FE, yah pengennya sih liat kampus FE-FE di uni lain kayak gimana gitu, n sapa tau kalo nanti dapet kesempatan kuliah di sana jadinyakan udah tau di mana tempatnya. Kami pun turun di depan sebuah taman kampus yang cukup luas dan tidak lupa another photo session. Puas menikmati taman kampus, kami berjalan dan menemukan bahwa lokasi pertama yang kami tuju tidak jauh lagi. Kai sempat menemukan Innovation Center, dan akhirnya business school pun kami temukan. Ternyata kampusnya sih biasa saja menurut kami hanya berupa sebuah gedung bertingkat 4-5 lantai lah dan tepat berhadapan dengan S. Rajaratnam school of Public Policy yang juga memiliki model bangunan yang sama. Yah ini sih lebih indah n menarik kampus FEUI…hihi (narsis mode on). Kami memutuskan untuk masuk, ternyata sepi, mungkin lagi pada kuliah yah, dan kami pun menuju root top bangunan…ya sudahlah akhirnya kami pun hanya berfoto dan tidak lama memutuskan untuk pergi. Tapi sebelumnya sayang sudah sampai NTU tapi tidak merasakan shuttle busnya, akhirnya kami pun berkeliling NTU dengan bus tersebut. Kampus NTU kondisinya sih mirip dengan UI, dikelilingi hutan.

Selesai mengunjungi NTU, kami segera menuju NUS.Berdasarkan petunjuk yang diberikan Mus, kami perlu kembali ke Clementi Station, dan mencari bus yang menuju NUS. Kami pun janjian untuk bertemu di NUS dan Mus akan mengajak salah seorang temannya yang saat ini kebenaran berkuliah di NUS. Tidak sulit dan tidak lama kami pun sampai di kampus Orange ni.kami turun di depan Perpustakaan Pusat NUS. Awalnya sempat bingung harus kemana kami karena saat itu belum dapat memahami peta kampus yang ada di setiap halte bus dalam kampus NUS. Akhirnya kami menanyakan bagaimana cara kami untuk mencapai NUS business school (again business school, hehe) kepada seorang Ibu yang kemudian menyuruh kami menggunakan shuttle bus A2 dan akan turun tepat di depannya. Tidak lama shuttle bus yang kami tunggu tiba, wah shuttle bus NUS ternyata bagus yah, ber-AC, bersih, dan nyaman, dibandingkan bikun UI yang udah cukup berumur (dalam hati kapan yah UI punya yang kayak gini…hint: ada surprise ketika saya sampai kembali di indonesia n tepatnya di kampus).Tetapi ada satu hal yang lebih baik di UI, kami biasa mengatakan “Terima Kasih, Pak” ketika turun dari bus, hal yang tidak saya temukan di NUS.

Akhirnya NUS Business School ada di depan kami. Yang menarik dan mengasyikan dari kampus ini suasana internasionalnya sangat terasa. Banyak di antara mahasiswanya yang memang berasal dari berbagai negara. Wajar saja kampus ini ternyata salah satu business school terbaik dunia. Terpampang pengumuman besar yang menyebutkan bahwa rank 20th in the world…Kami sempat melihat-lihat papan pengumuman organisasi-organisasi kemahasiswaan, dan lokasi-lokasinya. Untuk luas dan keindahan kampus FEUI lebih unggul sih…dan oops ternyata sedang dibangun sebuah gedung baru bernama Mochtar Riady building. Selidik punya selidik, gedung tersebut dibiayai pembangunanya oleh group Lippo (sebuah konglomerat dari Indonesia), bahkan ketika melihat papan pengumuman yang tercantum para penyandang dana alias donatur terbesar kampus ini 3 posisi puncak ditempati oleh group Lippo. Sungguh ironis memang, perusahaan negeri sendiri lebih memilih untuk membiayai dan memajukan pendidikan di negeri orang, padahal kurang banyak bagaimana kampus-kampus di dalam negeri yang lebih membutuhkan dana untuk meningkatkan kualitas pendidikannya!!!

Tak terasa waktu makan siang pun telah tiba, dan sambil menunggu Mus dan temannya kami duduk di halaman kampus. Tak disangka kami didatangi oleh dua orang yang berasal dari India yang akhirnya mewawancarai kami, dan kemudian memberikan kartu nama mereka. Tak lama Mus memberitahu bahwa mereka telah berada di kantin Business School bersama temannya yang berkuliah di kampus tersebut. Kami cukup lama sampai akhirnya dapat menemui mereka. Teman Mus tersebut bernama Nazeera, ia adalah mahasiswi Pemasaran di NUS Business School. Sebelum kami melanjutkan obrolan kami, saya dan hanif pun memesan makanan. Kami disarankan untuk memesan dari sebuah counter makanan Timur Tengah, karena hanya itulah yang dinilai halal. Saya memesan sepotong kebab yang lagi-lagi sangat mengenyangkan untuk ukuran perut saya, wuihh. Kami pun melanjutkan obrolan kami sambil menyantap makanan. Nazeera adalah mahasiswi dual degree di NUS, jadi di NUS kita diperbolehkan untuk mengambil dua jurusan yang berbeda sekaligus dan akan mendapatkan gelar ganda ketika lulus. Kebeneran nih, Nazeera selain mengambil pemasaran ia juga mengambil komunikasi di Fakultas Seni dan Sosial. Obrolan kami seputar sistem kuliah di NUS, organisasi apa saja, dan keseharian di kampus.

Selesai makan siang. Nazeera mengajak kami untuk berkeliling kampus dimulai melihat-lihat ruang perkuliahan, lalu perpustakaan fakultas. Menariknya saat kami mengunjungi perpustakaan sang petugas dengan baik hati mempersilahkan kami masuk padahal kami tidak memiliki kartu keanggotaan, mungkin lantaran kami adalah mahasiswa asing yang sedang berkunjung ke kampus mereka makanya  mereka sangat menghargai. Perpustakaan business school cukup modern dan sangat sunyi…berisikan orang-orang kutu buku dan SO yang sangat serius membaca, bahkan sangat ditekankan larangan BERISIK!!!! Lanjut! Yah Nazeera kemudian mengajak kami menuju perpustakaan pusat karena kami sekalian ingin melaksanakan shalat. Katanya sih untuk shalat mushola yang ada cuman di sana. Memang yang menyedihkan sangat sulit untuk menemukan tempat shalat di kampus di Singapore. Sangat mending lho di NUS ada musholanya, karena di NTU bahkan tidak ada sama sekali mushola, payah banget sih!!!! Sambil menuju perpustakaan pusat kami berjalan, berfoto dan saya pun sempat membeli minuman kaleng dari vending machine yang banyak tersebar di seluruh penjuru kampus. Mungkin saya jadi sedikit memahami mengapa di Indonesia agak sulit keberadaan vending machine. Pertama, sikap warganya yang mungkin akan mebuat keberadaan mesin jenis itu tidak bertahan lama, kedua, uang di Indonesia jarang yang terbuat dari koin kan, padahal mesin seperti itu dioperasikan dengan menggunakan uang koin/logam.

Kami menuju perpustakaan pusat kembali menggunakan shuttle bus kampus. Perpustakaan di sana cukup luas dan kala itu sedang diadakan kegiatan kemahasiswaan yang cukup besar. Kami akhirnya memutuskan untuk segera shalat. Ternyata tempat shalat di NUS adalah sebuah petak bawah tangga yang mungkin dapat dikatakan kurang layak uuntuk tempat layak (yah daripada ga ada) bahkan tempat wudlunya cukup jauh terpisah dari lokasi shalat.! Di sana beruntungnya, kami bertemu NUS Moslem Society yang kebeneran lagi menjalankan shalat pula….akhirnya kami sempat berkenalan dan bertukar kartu nama. (i’ll send u e-mail later). Setelah shalat kami kembali menemui Mus dan Nazeera yang menunggu di bawah. Kemudian Nazeera mengajak kami mengunjungi kampusnya karena ia sekalian akan masuk kuliah. Kami pun sempat diajak masuk ke dalam ruang kelas yang ternyata akan diberikan lecture. Jadi sistem di sana kuliah ada dua jenis lecture yang bersifat kuliah umum pada ruangan besar kayak di audit FEUI, dan tutorial yang diberikan pada ruang kecil atau kayak kuliah harian di FEUI… Tadinya kami ditawarkan untuk mencoba mengikuti kuliah di sana tapi mengingat keterbatasan waktu yang kami miliki yah kami pun harus berpisah di sini. Thanks to Nazeera for great campus tour today, see u next time…

Setelah berfoto bersama, kami memutuskan untuk pulang karena malam ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju Malaysia, sehingga kami harus segera packing. Ternyata rumah Mus tidak jauh dari kampus NUS, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang kami sempat berfoto di depan tugu kampus NUS, dan dengan baik hati seorang mahasiswa NUS menawarkan diri untuk memoto kami sehingga kami dapat berfoto bersama. Kami menemukan sebuah mesjid di atas bukit, pusat komunitas Clementi, hingga sekolah menengah di mana Mus sebelumnya bersekolah..Hanya berjala sekitar 15 menit kami pun sudah sampai di rumah.  Di rumah kami memutuskan untuk segera membereskan barang bawaan kami dan sepanjang sisa hari kami hanya berinternet ria untuk mengupdate status FB dan mengupload sejumlah foto!!\ hihihi

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9.30 malam, kami pun akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Malaysia. Kami sempat memoto ruangan tempat kami tidur, lalu berfoto dengan keluarga Mustafa dan memberikan sedikit kenag-kenangan untuk Mus…semoga suka!!! Lalu Mus memberikan saran bahwa di Malaysia kami harus lebih berhati-hati karena katanya banyak pickpocket alias copet.

Untuk menuju Malaysia dari Singapore cukup mudah. Kami menuju Clementi Interchange dari tempat kami menginap lalu dilanjutkan menggunakan MRT ke arah Boonlay dan turun di Jurong East untuk berganti MRT yang North South Line. Menggunakan MRT North South, kami kemudian harus turun di stasiun Kranji, dan kemudian di depan stasiun kami dapat memilih dua jenis bus ada bus SBS yang menuju Johor Bahru untuk perhentian Kotaraya bagi yang ingin ke pusat kota JB, atau bus Causeway berwarna kuning yang akan menuju Larkin bagi yang akan langsung ke terminal antarkota yang ada di JB. Ongkos yang harus dibayar sebesar Sin$1,3 sangat murah untuk transportasi antarnegara. Kami memutuskan untuk menggunakan Causeway Bus karena kami akan langsung menuju Kuala Lumpur malam ini juga. Menggunakan bus untuk menuju Malaysia tidak terlalu menyulitkan proses imigrasinya. Saat tiba di perbatasan wilayah Singapore, kita perlu untuk melakukan pemeriksaan imigrasi makanya kita harus turun dari bus. Kemudian setelah pemeriksaan imigrasi di pos Singapore kita dapat melanjutkan perjalanan baik menggunakan bus yang sama atau kadang berbeda yang penting tujuannya sama, makanya kita diharuskan menympan bukti bayar yang kita peroleh saat pertama menaiki bus. Hal yang sama akan kita lalui ketika akan melakukan pengecekan imigrasi di pos Malaysia. Bila sudah selesai kita dapat melanjutkan perjalanan menuju Larkin….

Di terminal Larkin, kita dapat langsung menemui berjejer kaunter bus yang menawarkan perjalanan menuju KL. Kami memutuskan untuk menggunakan bus perjalanan terkahir dari JB pukul 01.00 Dini hari dengan harapan dapat sampai di KL pada pagi hari. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa bus Konsortium sesuai apa yang disarankan keluarga Mus. Akhirnya tiket kami dapatkan seharga RM 31 atau sekitar Rp 93000. Kami pun memiliki waktu sekitar 2 jam sebelum keberangkatan bus kami, dan kami menunggu sambil menyantap segelas Milo hangat dan kentang goreng di McD yang ada di terminal. 15 menit sebelum pukul 1, petugas mempersilahkan kami untuk memasuki bus, Wow, busnya bagus banget, satu baris hanya ada tiga kursi, jadi kursinya gede banget dan sangat nyaman untuk tidur!!!! Benar saja tidak lama bus berjalan dan tiket diperiksa, kami pun tertidur kelelahan!!! Bye-bye Singapore, See u next Time

Special Thanks for My host Mustafa and Its Warm Family, thank you for foods, couch, great tour and time to accept us. Nazeera for great campus tour, and many peoples who helped me during our time in Singapore…See u next time, and we wait your coming to my country…

October 9, 2009 Posted by | My Small Step Around the World | 2 Comments

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.