NTU, NUS, and See You Singapore (12-01-09)
Kami telah mencapai hari ketiga perjalanan. Masih di Singapore, dan ini akan menjadi hari terakhir kami di sini. Rencananya hari ini kami ingin mengunjungi kampus NTU dan NUS. Ya bagaimanapun juga karena kami masih mahasiswa tidak afdol rasanya kalau berkunjung ke tempat orang tanpa mengunjungi kampus terkemuka di wilayah itu. Kali ini kami berangkat lebih pagi, dan pertama kami akan mengunjungi NTU. Tidak sulit ternyata menuju kampus NTU, dari tempat kami menginap kami cukup menuju Clementi Interchange menggunakan bus 282, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan MRT east west line ke arah Boon Lay. Lalu, kami turun di stasiun Boon Lay dan melanjutkan dengan menggunakan bus no 196 yang lengsung menuju Kampus NTU. Saat itu karena pagi hari, terutama saat akan menggunakan bus 196 antrian sangat panjanggggggggggggg, mereka adalah mahasiswa/i yang berkuliah di NTU, tetapi karena keteraturan mereka ternyata tidak lama kok kami kemudian mendapatkan bus yang akan membawa kami ke NTU.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah NTU Business School. Karena kami anak FE, yah pengennya sih liat kampus FE-FE di uni lain kayak gimana gitu, n sapa tau kalo nanti dapet kesempatan kuliah di sana jadinyakan udah tau di mana tempatnya. Kami pun turun di depan sebuah taman kampus yang cukup luas dan tidak lupa another photo session. Puas menikmati taman kampus, kami berjalan dan menemukan bahwa lokasi pertama yang kami tuju tidak jauh lagi. Kai sempat menemukan Innovation Center, dan akhirnya business school pun kami temukan. Ternyata kampusnya sih biasa saja menurut kami hanya berupa sebuah gedung bertingkat 4-5 lantai lah dan tepat berhadapan dengan S. Rajaratnam school of Public Policy yang juga memiliki model bangunan yang sama. Yah ini sih lebih indah n menarik kampus FEUI…hihi (narsis mode on). Kami memutuskan untuk masuk, ternyata sepi, mungkin lagi pada kuliah yah, dan kami pun menuju root top bangunan…ya sudahlah akhirnya kami pun hanya berfoto dan tidak lama memutuskan untuk pergi. Tapi sebelumnya sayang sudah sampai NTU tapi tidak merasakan shuttle busnya, akhirnya kami pun berkeliling NTU dengan bus tersebut. Kampus NTU kondisinya sih mirip dengan UI, dikelilingi hutan.
Selesai mengunjungi NTU, kami segera menuju NUS.Berdasarkan petunjuk yang diberikan Mus, kami perlu kembali ke Clementi Station, dan mencari bus yang menuju NUS. Kami pun janjian untuk bertemu di NUS dan Mus akan mengajak salah seorang temannya yang saat ini kebenaran berkuliah di NUS. Tidak sulit dan tidak lama kami pun sampai di kampus Orange ni.kami turun di depan Perpustakaan Pusat NUS. Awalnya sempat bingung harus kemana kami karena saat itu belum dapat memahami peta kampus yang ada di setiap halte bus dalam kampus NUS. Akhirnya kami menanyakan bagaimana cara kami untuk mencapai NUS business school (again business school, hehe) kepada seorang Ibu yang kemudian menyuruh kami menggunakan shuttle bus A2 dan akan turun tepat di depannya. Tidak lama shuttle bus yang kami tunggu tiba, wah shuttle bus NUS ternyata bagus yah, ber-AC, bersih, dan nyaman, dibandingkan bikun UI yang udah cukup berumur (dalam hati kapan yah UI punya yang kayak gini…hint: ada surprise ketika saya sampai kembali di indonesia n tepatnya di kampus).Tetapi ada satu hal yang lebih baik di UI, kami biasa mengatakan “Terima Kasih, Pak” ketika turun dari bus, hal yang tidak saya temukan di NUS.
Akhirnya NUS Business School ada di depan kami. Yang menarik dan mengasyikan dari kampus ini suasana internasionalnya sangat terasa. Banyak di antara mahasiswanya yang memang berasal dari berbagai negara. Wajar saja kampus ini ternyata salah satu business school terbaik dunia. Terpampang pengumuman besar yang menyebutkan bahwa rank 20th in the world…Kami sempat melihat-lihat papan pengumuman organisasi-organisasi kemahasiswaan, dan lokasi-lokasinya. Untuk luas dan keindahan kampus FEUI lebih unggul sih…dan oops ternyata sedang dibangun sebuah gedung baru bernama Mochtar Riady building. Selidik punya selidik, gedung tersebut dibiayai pembangunanya oleh group Lippo (sebuah konglomerat dari Indonesia), bahkan ketika melihat papan pengumuman yang tercantum para penyandang dana alias donatur terbesar kampus ini 3 posisi puncak ditempati oleh group Lippo. Sungguh ironis memang, perusahaan negeri sendiri lebih memilih untuk membiayai dan memajukan pendidikan di negeri orang, padahal kurang banyak bagaimana kampus-kampus di dalam negeri yang lebih membutuhkan dana untuk meningkatkan kualitas pendidikannya!!!
Tak terasa waktu makan siang pun telah tiba, dan sambil menunggu Mus dan temannya kami duduk di halaman kampus. Tak disangka kami didatangi oleh dua orang yang berasal dari India yang akhirnya mewawancarai kami, dan kemudian memberikan kartu nama mereka. Tak lama Mus memberitahu bahwa mereka telah berada di kantin Business School bersama temannya yang berkuliah di kampus tersebut. Kami cukup lama sampai akhirnya dapat menemui mereka. Teman Mus tersebut bernama Nazeera, ia adalah mahasiswi Pemasaran di NUS Business School. Sebelum kami melanjutkan obrolan kami, saya dan hanif pun memesan makanan. Kami disarankan untuk memesan dari sebuah counter makanan Timur Tengah, karena hanya itulah yang dinilai halal. Saya memesan sepotong kebab yang lagi-lagi sangat mengenyangkan untuk ukuran perut saya, wuihh. Kami pun melanjutkan obrolan kami sambil menyantap makanan. Nazeera adalah mahasiswi dual degree di NUS, jadi di NUS kita diperbolehkan untuk mengambil dua jurusan yang berbeda sekaligus dan akan mendapatkan gelar ganda ketika lulus. Kebeneran nih, Nazeera selain mengambil pemasaran ia juga mengambil komunikasi di Fakultas Seni dan Sosial. Obrolan kami seputar sistem kuliah di NUS, organisasi apa saja, dan keseharian di kampus.
Selesai makan siang. Nazeera mengajak kami untuk berkeliling kampus dimulai melihat-lihat ruang perkuliahan, lalu perpustakaan fakultas. Menariknya saat kami mengunjungi perpustakaan sang petugas dengan baik hati mempersilahkan kami masuk padahal kami tidak memiliki kartu keanggotaan, mungkin lantaran kami adalah mahasiswa asing yang sedang berkunjung ke kampus mereka makanya mereka sangat menghargai. Perpustakaan business school cukup modern dan sangat sunyi…berisikan orang-orang kutu buku dan SO yang sangat serius membaca, bahkan sangat ditekankan larangan BERISIK!!!! Lanjut! Yah Nazeera kemudian mengajak kami menuju perpustakaan pusat karena kami sekalian ingin melaksanakan shalat. Katanya sih untuk shalat mushola yang ada cuman di sana. Memang yang menyedihkan sangat sulit untuk menemukan tempat shalat di kampus di Singapore. Sangat mending lho di NUS ada musholanya, karena di NTU bahkan tidak ada sama sekali mushola, payah banget sih!!!! Sambil menuju perpustakaan pusat kami berjalan, berfoto dan saya pun sempat membeli minuman kaleng dari vending machine yang banyak tersebar di seluruh penjuru kampus. Mungkin saya jadi sedikit memahami mengapa di Indonesia agak sulit keberadaan vending machine. Pertama, sikap warganya yang mungkin akan mebuat keberadaan mesin jenis itu tidak bertahan lama, kedua, uang di Indonesia jarang yang terbuat dari koin kan, padahal mesin seperti itu dioperasikan dengan menggunakan uang koin/logam.
Kami menuju perpustakaan pusat kembali menggunakan shuttle bus kampus. Perpustakaan di sana cukup luas dan kala itu sedang diadakan kegiatan kemahasiswaan yang cukup besar. Kami akhirnya memutuskan untuk segera shalat. Ternyata tempat shalat di NUS adalah sebuah petak bawah tangga yang mungkin dapat dikatakan kurang layak uuntuk tempat layak (yah daripada ga ada) bahkan tempat wudlunya cukup jauh terpisah dari lokasi shalat.! Di sana beruntungnya, kami bertemu NUS Moslem Society yang kebeneran lagi menjalankan shalat pula….akhirnya kami sempat berkenalan dan bertukar kartu nama. (i’ll send u e-mail later). Setelah shalat kami kembali menemui Mus dan Nazeera yang menunggu di bawah. Kemudian Nazeera mengajak kami mengunjungi kampusnya karena ia sekalian akan masuk kuliah. Kami pun sempat diajak masuk ke dalam ruang kelas yang ternyata akan diberikan lecture. Jadi sistem di sana kuliah ada dua jenis lecture yang bersifat kuliah umum pada ruangan besar kayak di audit FEUI, dan tutorial yang diberikan pada ruang kecil atau kayak kuliah harian di FEUI… Tadinya kami ditawarkan untuk mencoba mengikuti kuliah di sana tapi mengingat keterbatasan waktu yang kami miliki yah kami pun harus berpisah di sini. Thanks to Nazeera for great campus tour today, see u next time…
Setelah berfoto bersama, kami memutuskan untuk pulang karena malam ini kami akan melanjutkan perjalanan menuju Malaysia, sehingga kami harus segera packing. Ternyata rumah Mus tidak jauh dari kampus NUS, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan pulang kami sempat berfoto di depan tugu kampus NUS, dan dengan baik hati seorang mahasiswa NUS menawarkan diri untuk memoto kami sehingga kami dapat berfoto bersama. Kami menemukan sebuah mesjid di atas bukit, pusat komunitas Clementi, hingga sekolah menengah di mana Mus sebelumnya bersekolah..Hanya berjala sekitar 15 menit kami pun sudah sampai di rumah. Di rumah kami memutuskan untuk segera membereskan barang bawaan kami dan sepanjang sisa hari kami hanya berinternet ria untuk mengupdate status FB dan mengupload sejumlah foto!!\ hihihi
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9.30 malam, kami pun akhirnya pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Malaysia. Kami sempat memoto ruangan tempat kami tidur, lalu berfoto dengan keluarga Mustafa dan memberikan sedikit kenag-kenangan untuk Mus…semoga suka!!! Lalu Mus memberikan saran bahwa di Malaysia kami harus lebih berhati-hati karena katanya banyak pickpocket alias copet.
Untuk menuju Malaysia dari Singapore cukup mudah. Kami menuju Clementi Interchange dari tempat kami menginap lalu dilanjutkan menggunakan MRT ke arah Boonlay dan turun di Jurong East untuk berganti MRT yang North South Line. Menggunakan MRT North South, kami kemudian harus turun di stasiun Kranji, dan kemudian di depan stasiun kami dapat memilih dua jenis bus ada bus SBS yang menuju Johor Bahru untuk perhentian Kotaraya bagi yang ingin ke pusat kota JB, atau bus Causeway berwarna kuning yang akan menuju Larkin bagi yang akan langsung ke terminal antarkota yang ada di JB. Ongkos yang harus dibayar sebesar Sin$1,3 sangat murah untuk transportasi antarnegara. Kami memutuskan untuk menggunakan Causeway Bus karena kami akan langsung menuju Kuala Lumpur malam ini juga. Menggunakan bus untuk menuju Malaysia tidak terlalu menyulitkan proses imigrasinya. Saat tiba di perbatasan wilayah Singapore, kita perlu untuk melakukan pemeriksaan imigrasi makanya kita harus turun dari bus. Kemudian setelah pemeriksaan imigrasi di pos Singapore kita dapat melanjutkan perjalanan baik menggunakan bus yang sama atau kadang berbeda yang penting tujuannya sama, makanya kita diharuskan menympan bukti bayar yang kita peroleh saat pertama menaiki bus. Hal yang sama akan kita lalui ketika akan melakukan pengecekan imigrasi di pos Malaysia. Bila sudah selesai kita dapat melanjutkan perjalanan menuju Larkin….
Di terminal Larkin, kita dapat langsung menemui berjejer kaunter bus yang menawarkan perjalanan menuju KL. Kami memutuskan untuk menggunakan bus perjalanan terkahir dari JB pukul 01.00 Dini hari dengan harapan dapat sampai di KL pada pagi hari. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa bus Konsortium sesuai apa yang disarankan keluarga Mus. Akhirnya tiket kami dapatkan seharga RM 31 atau sekitar Rp 93000. Kami pun memiliki waktu sekitar 2 jam sebelum keberangkatan bus kami, dan kami menunggu sambil menyantap segelas Milo hangat dan kentang goreng di McD yang ada di terminal. 15 menit sebelum pukul 1, petugas mempersilahkan kami untuk memasuki bus, Wow, busnya bagus banget, satu baris hanya ada tiga kursi, jadi kursinya gede banget dan sangat nyaman untuk tidur!!!! Benar saja tidak lama bus berjalan dan tiket diperiksa, kami pun tertidur kelelahan!!! Bye-bye Singapore, See u next Time
Special Thanks for My host Mustafa and Its Warm Family, thank you for foods, couch, great tour and time to accept us. Nazeera for great campus tour, and many peoples who helped me during our time in Singapore…See u next time, and we wait your coming to my country…
From Clementi to Ang Mo Kio (Singapore, 11-02-09)
Wah….tidak terasa kami sudah menginjak hari kedua keberadaan kami di Negeri Singa. Setelah kemarin kami baru datang langsung disuguhi pemandangan yang menakjubkan ditambah keramahan keluarga Mohd. Sidek, kami semaki tidak sabar untuk menjelajahi negara kota ini. Yah, pagi ini kami bangun dan oops ternyata Ibu Mustafa telah menyediakan sarapan, wah apa nih? kami rasa makanan tradisional Singapore (memangnya ada yah?). kami dihidangkan sebungkus nasi terbungkus daun pisang dan kue berwarna-warni. Ternyata, yah ini sih nasi uduk yang kayak di Jakarta! cuman dibungkus berukuran kecil seperti nasi kucing di Yogya, mereka sih menyebutnya nasi lemak….sedangkan kue warni-warni berlapis ternyata ga ada bedanya dengan kue lapis lumut yang biasa kita temui di pasar tradisional. Sudahlah yang penting kami mendapat sarapan yang cukup lezat….
Ok…let’s explore Singapore….setelah berdiskusi dengan Mustafa dan kami pun bersiap2, akhirnya kami putuskan pertama untuk pergi menuju Little India. Yup, kami tentunya menggunakan MRT menuju tempat tersebut. Sungguh kami sangat terkagum-kagum dengan kebersihan dan keteraturan kota ini (extremely clean, efficient and fast) coba seandainya Jakarta bisa kayak Singapore (kapan yah?), eits tapi bukan berarti kok Singapore bebas dari sampah…kalo kita sedikit menjelajah ke pusat-pusat pemukiman yah ada aja sampah yang berserakan walau jumlahnya ga banyak sih J. Satu lagi yang membuat kami senang di sini adalah Pejalan Kaki adalah raja, hahaha, karena di sini setiap pengendara kendaraan bermotor pastinya akan mendahulukan pejalan kaki, terutama saat menyebrang…(yah 1-2 pengendara mungkin membandel).
Wah tidak terasa dalam beberapa menit kami sudah sampai di Little India….Pada dasarnya sih kawasan ini merupakan kawasan orang-orang India yang bermukim di Singapore. Hal yang mencolok di sini adalah berderet berbagai macam toko (khususnya toko yang menjual sayur mayur dan pakaian) dengan harga yang relatif miring untuk ukuran orang Singapore (artinya masih jauh lebih murah di Indonesia kok), dan pastinya di depan setiap rumah atau toko yang beragama Hindu dipastikan terpasang dupa atau sesajen hingga membuat kawasan tersebut berbau menyengat. Kami menemui beberapa kuil yang unik, dan wah ada sebuah mesjid, tampaknya sih mesjid kaum Muslim keturunan India. Nama Mesjidnya sih Mesjid Anguilla (kaya nama negara yah?), berwarna cukup mencolok dibandingkan bangunan di sekitarnya. Seperti biasa take photo and masuk yuk….Huh sayangnya ternyata kami tak boleh masuk, (entah hanya keturunan India saja yang boleh masuk atau bagaimana, padahal di dalam ada beberapa orang yang sedang mengobrol dan beribadah. Yah mungkin karena kami bertampang Melayu!). Tempat yang cukup lama kami kunjungi adalah Mustafa Center, di sini adalah pusat perbelanjaan yang isinya all about Singapore atau pusat souvenir gitu deh. Mulai dari kaos-kaos, gantungan kunci, hiasan meja, snack, apapun deh yang biasanya dibawa sebagai buah tangan dari Singapore ada di sini. Kami akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa souvenir untuk teman-teman di Indonesia dan sebuah terminal berkaki tiga untuk penggunaan alat-alat listrik di Singapore (soalnya di Indonesia kan colokkannya dua)
Ya sudah, kami melanjutkan perjalanan ke Kampung orang-orang Melayu….tak jauh kok letaknya dari Little India. Menurut Mustafa komunitas orang Melayu di Singapore saat ini sekitar 14%, padahal dahulunya pendiri negeri ini kebanyakan adalah orang Melayu. Kawasan yang kami kunjungi memang bernuansakan Arab, terutama dari nama jalan-jalan ada Jalan Muscat sampai Baghdad, hihi serasa keliling dunia jadinya. Di kawasan Melayu ini kami menemukan mesjid terbesar di Singapore, namanya Mesjid Sultan. kami sempat melakukan shalat dhuha dan istirahat sejenak. Setelah puas berphoto-photo kami pun mengunjungi Kampung Glam, masih merupakan wilayah Melayu dan di sini terdapat Istana Melayu begitu.. hahaha, kami menemukan restoran padang, rumah gadang, pokoknya berbagai hal yang Indonesia banget di sini. Wah ada pusat souvenir lagi, asik hunting oleh-oleh lagi donk!! Ya ampun, ternyata harga souvenir di sini jauh lebih murah dari apa yang kami beli di Mustafa Center!!! Harganya hanya kurang dari setengah harga barang yang sama yang dijual di MC!!!! Nyesel deh beli banyak barang di MC….
Lanjut….setelah puas di dua kawasan komunitas, kami menuju kampung Bugis, ups bukan berarti di sana banyak orang bugis dari Sulawesi yah (mungkin juga sih, coz Mus ga nyeritain). Kawasan ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan anak muda baget…berbagai pusat belanja murah sampai berkelas ada di sini. Pokoknya setiap orang (anak muda) yang berada di kawasan ini pasti menenteng kantong belanjaan (yang jumlanya ga cuman 1, jadi minder). Kami tak terlalu berminat membeli sesuatu di sini, selain budget kami terbatas harganya cukup mahal padahal barang-barangnya sama aja kayak di Indonesia. Akhirnya kami lebih memilih untuk lanjut ke kawasan CBD, mengunjungi perpustakaan nasional Singapore yang keren banget, super modern, dan nyaman. Lalu Raffles Hotel (katanya sih hotel paling mahal di singapore), hotel yang menempati bangunan kuno warisan pendudukan bangsa Eropa, di dalamnya selain hotel berderet outlet-outlet merk kenamaan dunia yang mungkin jarang ditemukan di tempat lain. Take photo, of course lah….keren kan photo di depan hotel ini plus yang di depannya juga berderet mobil-mobil bermerk kayak Limousine atau Jaguar…mantep banget dah…
Sudah puas dengan hotel, kami lanjutkan perjalanan (bener-bener dengan jalan kaki loh) menuju pusat kota, kami melalui mahkamah agung (Supreme Court) Singapore yang memiliki bangunan yang keren bergaya bangunan kehakiman di Eropa (yang sepertinya juga dikutin ma bangunan MK di Jakarta), City Hall, trus berbelok ke Asian Civilitation Museum, dan Wah Patung Raffles (tepatnya di depan Singapore River…kami menyusuri pinggir sungai yang membelah kota ini dan menemukan berbagai bangunan dan hal menarik….jembatan tua Singapore, hotel Fullerton (kayak Raffles Hotel gitu deh), UOB Plaza bangunan tertinggi di Singapore, dan akhirnya kami menuju mesjid Maulana Yusuf…..Awalnya kami bingung kok ga ada bangunan mesjid di sini, dan keren banget di pusat kota gini ada yang mau merelakan tanah yang langka hanya untuk sepetak mesjid…ternyata mesjidnya di bawah tanah….Jangan pikir mesjidnya itu mesjid ato mushola kayak yang ada di basement mal-mal di Indonesia, trus bau kaki ga jelas. Mesjid bawah tanah ini keren banget, bersih, dan nyaman deh….kami pun melakukan shalat dzuhur sekaligus ashar di mesjid ini.
Tak terasa perut sudah keroncongan…hehe, awalnya kami sempat kebingungan untuk mencari tempat makan, soalnya keluarga Mus mengingatkan bahwa kalo cari makan harus di tempat yang memiliki sertifikasi Halal. Inilah salutnya saya dengan Muslim di Singapore, mereka sangat memerhatikan masalah kehalalan makanan, suatu hal yang tidak terlalu diperhatikan bila kita berada di Indonesia. Ternyata orang tua Mus memberitahu bahwa mereka saat ini sedang jalan2 pula mengajak anak-anak mereka yang lain refreshing di hari Minggu. Kami pun janjian untuk bertemu di Kantin Rumah Sakit Nasional Singapore dan makan siang di sana, karena katanya makanan di sana relatif banyak yang halal. Tidak lama kami menggunakan MRT, kami pun sampai di RS Nasional Singapore, dan keluarga Mus ternyata telah berkumpul. Kami pun disuruh segera memesan makanan dan oops, Ayah Mus memberi kami Sin$ 20, kami jadi tidak enak sama mereka padahal kami telah sebisa mungkin menolak. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli makanan berbahan dasar ikan yang dimasak ala China, cukup lezat dan pastinya mengenyangkan walau bagi standar harga makan di Indonesia cukup mahal sekitar Sin$5 (sepertinya berapa kali makan di Singapore porsi yang diberikan selalu dua kali porsi yang didapat di Indonesia, apa orang Singapore memang makannya banyak yah?)
Ok, perut sudah kenyang dan tenaga sudah pulih kembali. Kami akan melanjutkan perjalanan hari ini…Selanjutnya! kemana lagi kalau bukan sebuah jalan terkenal terutama bagi shoppingholic, yup, Orchard Road. Kami disarankan untuk menggunakan city bus dan yang bertingkat untuk merasakan Singapore layaknya menggunakan jasa city tour. Saat naik bus tingkat yang ada di Singapore jadi teringat dulu di Jakarta sempat ada bus tingkat semacam itu, dan mengingatkan saya ketika naik bus tersebut bersama Almh. Nenek saya yang sudah cukup lama meninggal. Sampailah kami di Orchard, tepatnya di depan McDonnel Building, Mus menceritakan sedikit kisah tentang gedung yang konon memiliki hubungan historis dengan bangsa Indonesia. Katanya dulu bangunan yang saat ini digunakan sebagai kantor salah satu bank, sempat dibakar orang Indonesia sebelum Singapore menjadi sebuah negara (tepatnya ketika konfrontasi dengan Malaysia). Orchard memang surganya belanja, sepanjang jalan dipenuhi pusat-pusat perbelanjaan berkelas yang menawarkan keunggulannya masing-masing. Tapi lagi, bagi kami tidak ada niat tuh membeli barang di sana, kebayang kalo kami belanja di sana sedangkan perjalanan yang harus kami lalui masih sangat panjang, bisa-bisa budget ludes, ngerepotin ,n ga bisa pulang deh, hehe….
Di Orchard kami hanya window shopping dan sempat pula mengunjungi Singapore Visitor Center. Di sana kami mengumpulkan banyak sekali brosur wisata yang resmi dikeluarkan otoritas wisata Singapore. Pantes aja pariwisata Singapore sangat maju, promosi yang dilakukan bener2 hebat, entah berapa anggaran yang disiapkan untuk melayani turis-turis dengan berbagai informasi serba keren dan eksklusif, gratis pula…Puas berfoto dan mengkhayal untuk berbelanja, kami menuju MRT station karena kami akan mengunjungi teman Hanif yang kebeneran saat ini sedang berkuliah di NTU. Teman Hanif tersebut tinggal di daerah Ang Mo Kio. Ternyata kami harus berpisah dengan Mus, karena ia tidak ikut dengan kami berkunjung ke tempatnya teman Hanif. Tidak sulit sih mencari tempat tinggal beliau, dan memang itulah Singapore, asalkan ada alamat yang jelas dan informasi transportasi mana saja yang harus digunakan tempat tinggal sesorang mudah diketemukan. Cukup lama kami berbincang dengan teman Hanif ini..ternyata sejak lulus SMA, ia telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di NTU, dan sekarang ia mengajar di sekolah Singapore sebagai compulsory compentation beasiswa yang diterimanya. Mba..semoga masa wajibnya cepet selesai dan segera kembali ke Indonesia, karena di Indonesia pun masih membutuhkan orang-orang pintar kayak Mba yang dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM Indonesia. Semangat !!!
Kami pun memutuskan pulang menjelang maghrib. Kami menuju rumah Mus menggunakan MRT North South Line ke arah Jurong East, karena dari sana kami tinggal berganti MRT ke arah Changi dan turun satu stasiun kemudian. Ternyata perjalanan cukup lama, mana MRT sedang penuh-penuhnya, mungkin lebih dari 45 menit akhirnya saya baru dapat duduk…Hari yang melelahkan, kami telah mengelilingi Singapore dalam waktu 1 hari dari timur, ke utara dan berakhir kembali di Barat. Sesampainya di rumah kami sempat berbincang dengan keluarga Mus..O iya, baru Ingat nanti malam tepatnya 12.00 registrasi online akan dimulai, berarti perjuangan untuk mendapatkan kelas di kuliah semester depan harus dilakukan. Saya dan Hanif pun akhirnya tidak dapat tidur karena bersiap di depan komputer untuk daftar kuliah. Untungnya keluarga Mus ternyata biasanya tidur larut malam. Benar saja sekitar pukul 12.00 regol dimulai. Perjuangan pun harus dilakukan, beruntungnya karena saya mengakses dari Singapore ternyata jauh lebih cepat dan mudah untuk masuk ke situs kampus, Alhamdulillah regol kali ini lancar, semua kelas diperoleh sesuai harapan, hehe bahkan dengan bangganya menawarkan beberapa orang untuk didaftarkan…Hari yang menyenangkan, tidur dulu ah…
Breakfast in Depok, Lunch in Batam, and Dinner in Singapore
Hah…akhiranya hari yang ditunggu selama dua bulan ini datang juga….Tak terasa telah 2 bulan berkutat mencari tiket pesawat, orang2 baik yang mau membantu menampung, dan tentunya kocek agar survive selama 2 minggu di negeri orang.
Yup, hari ini tanggal 10 Januari 2009 aku dan temanku Hanif untuk pertama kali menjalankan misi backpacking lintas batas. YAh untuk permulaan dicoba dulu negara-negara tetangga donk. Sakingga sabarnya masa malemnya aku tidur tidak nyenyak….tapi sudahlah aku harus bergegas menuju bandara jangan sampai ketinggalan pesawat. Tepat pukul 05.15 sehabis shalat shubuh n sedikit sarapan roti, kami memulai perjalanan menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta, kami dilepas oleh teman2 1 kosan ku (Ilman n Fazri) dengan satu pesan khas “jangan lupa oleh2nya yah”…:)
Sesuai yang direncanakan kami akan menggunakan bus damri menuju bandara dari Pasar Minggu, sangat beruntung karena hari sabtu dan masih relatif pagi, jalanan tidak begitu padat sehingga kami pun dapat mencapainya dengan cepat. Oopps, tetap saja kami harus berlari!!! untung saja kami tidak tertinggal bus damri, terlambat saja beberapa menit, artinya kami harus menunggu bus dengan keberangkatan 1/2 jam ke depan…Perjalanan bus pun sangat lancar, tepat pukul 07.15 kami telah mencapai bandara artinya kami masih memiliki 2 jam sebelum keberangkatan. tapi sialnya kami salah turun seharusnya sih naiknya dari terminal 1C tapi kami turun di terminal 1A jadinya kami harus mencari dan menunggu shuttle bus yang akan mengantar kami ke terminal C……bukan salah kami sih turun di sana, gimana enggak karena kami kan beli tiket pesawatnya on line jadinya ga ada yang kasih tau kalo pesawat kami adanya di 1C, coz perasaan waktu beberapa bulan lalu mau ke Pekanbaru pesawat air asia itu ada di terminal 1A….sudahlah yang penting kami dapat check in….
waktu check in pu kami tergolong yang paling awal, masihj sepi….menyebalkannya ternyata AIR ASIA Indonesia sekarang menerapkan pemberian nomo tempat duduk…yah buat apa donk kami beli xpress boarding!!! tak apalah kami oth dapat no tempat duduk 1. Akhirnya kami mengikuti arus penantian take off, hingga akhirnya muncul panggilan”penumpang dengan tiket xpress boarding dipersilahkan naik duluan” ternyata yg pake cuman kami berdua ditambah sepasang manula!!!! yukz. MAklum ini pengalaman pertama kami pakai air asia, yah kami juga ga keluar uang banyak kok untuk penerbangan ke Batam ini cuman 389000an….
masuklah kami di pesawat…eng ing eng, bye-bye Jakarta……
Tak terasa kurang dari 2 jam kami telah melihat di kejauhan pulau2 dalam gugusan kepulauan Riau bak mutiara hijau di lautan….dan kami pun mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam…yah kami memilih untuk melalui Batam sebelum menuju singapore, awalnya sih ingin hemat fiskal(padahal kan aku tidak kena fiskal
Sesampainya di Bandara kami membeli tiket ferry seharga Sin$ 16 yag katanya kalo dibeli di pelabuhan harganya 17, yah jatuhnya murah sih hanya 140 ribuan dibandingin yg kita estimasi 30 dollar…selanjutnya kami mengikuti apa yang dibilang berbagai blog yaitu mencari taxi menuju batam center..
wah sesampainya di BAtam Center ternyata ferry Pinguin untuk keberangkatan pukul 12.30 telah penuh, otomatis kami harus menunggu untuk keberangkatan selanjutnya…hiks wah masih ada beberapa jam nih sebelum ferry berangkat…ya sud, kita berdua jalan2 di sekitar Mal BAtam Center, sekalian Sholat n makan siang deh. Lumayan sebelum meninggalkan negeri tercinta mncoba makanan padang dengan harga yang ga terlalu mahal, eh iya waktu kita jalan2 aku mendapatkan fans lho….tepatnya pas duduk2 di depan outlet buccheri!!!
waduh…ngaret2 lagi nih…ferry nya agak telat, baru jam setengah tiga akhirnya kami berlabuh….nyebelinnya cuaca kurang bersahabat, jadinya kami ga bisa lihat pemandangan yang indah sepanjang perjalanan laut ini!!! selama 1jam kami hanya bisa terkantuk2, foto2an narsis, n eits siluet kota Singapore mulai terlihat….sugoi desu ne!!!
tak berapa lama, akhirnya ku menjejakan kaki di negeri orang….kami pun mengikuti arah2 petunjuk yang kemudian mengarahkan kami kepada antrian imigrasi…hah…kirain indonesia doank yang ada antrinya, ternyata di Singapore juga ngantri nya lama bgt….sial bgt deh hari ini masa aku mendapat petugas antri (orang India) yang rese bgt, akhirnya aku disuruh masuk ruangan gitu deh (padahal di dalamnya ga diapain tapi sempet buat deg2an takutnya ga boleh masuk)…..walhasil hanif harus nunggu lama dan ternyata ga cuman aku yang masuk, ampir semua orang yang dilayani ama tuh petugas disuruh masuk!!!!! tak terkecuali pebisnis Indonesia yang udah sering bolak-balik Singapore, turis jepang, n turis dari negara2 Barat!!!!! Kami semua di tempatin di sebuah ruangan sempit gitu kesannya penjahat kelas teri atau mungkin teroris yang bakal ngebom merlion!!!! dasar…
untungnya petugas yg di dalam baik kok, cuman ditanya mo ngapain ke Singapore udah deh dapet cap visanya!!!! dasar ngabisan waktu ajah!
langsung lah kami menuju Harbour Front Shopping Complex and Vivo City….foto2 dan eits kami bingung nih mo kemana, mo ke rumah host kami masih kesorean,.Akhirnya kuputuskan kita ke chinatown….tapi, tapi gimana caranya nieh??? mo naek MRT belum tau caranya juga, tanya ke orang s’pore cara pake bus eh ga ngerti bhs Inggirs akhirnya ada dengan sedikit mencuri2 pandang cara orang membeli tiket yap…kami pun membeli tiket ez-link yang bisa dipake beberapa kali tinggal topup ajah kalo abis isinya….let’s go to Chinatown
mantep dah, transport di sana emang keren, bersih, cepet, efisien bgt pokonya. ga lama kami pun nyampe deh di stasiun Chinatown!!! wuih rame bgt, berhubung dah deket perayaan Imlek juga sih, sepanjang jalan penuh dengan pedagang berbagai macam hal berwarna serba merah!!! kami berjalan menyusuri chinatown – Sri Mariamman Temple – CBD nya Singapore — Fullerton Hotel – dan akhirnya MERLION…..di Merlion Park kami agak lam tentunya narsis2an ambil foto donk…..dari situ juga deket ke Esplanade, lanjut ke Suntec City and berbagai shopping mall di sekitarnya….
wah ga kerasa udah jam 9 (alias jam 8 waktu jakarta) yah berhubung kami akan menginap di tempat host tentunya ga enak kalo dateng malem2, yah akhirnya kami segera menuju stasiun MRT terdekat, katanya sih kami disuruh naik ke arah Harbour Front n transit di Outram Park untuk ngelanjutin pake MRT yg ke arah Boonlay…..trus turun deh di Clementi n naik bus no 182 turun ajah 6 halte dari situ…..MRT sih ga masalah yg jadi masalah adalah kita bingung nyari bus nya harus naik dari mana, yg namanya bus intercahnge itu kayak gimana sih!!!! huh bolak balik ga dapet sampai akhirnya ada seorang ibu2 yang mengantarkan kami dan yup that was the bus #182….ga kayak di negeri kita tercinta bus di sini juga udah pake kartu yg sama jadi ga perlu beli tiket tinggal tempelin kartu yg tadi kita punya di alat pembacanya pas naik n mau turun nanti ongkos akan terpotong sendiri dari saldo di dalam kartu kita!!!!
di dalam bus yang kami lakukan adalah menghitung jumlah halte, sampai akhirnya halte ke 6, dan kami mencari gedung no 72….menuju lantai 2, menekan bel,, dan met Mustafa (my first experience in surfing CSer). Wah mus orang nya baik kok….tak berapa lama keluarganya pun datang orang tua + 2 orang adik laki2 dan 2 orang adik perempuannya!!!! dan kami pun diajak makan malam di sebuah kantin pemukiman…..hohohoho Menu malam ini (ayam versi singapore + minuman baru yg ku pertama kali minum) NB: kalo mo mesen makan di sini hati2 banyak yg mengandung makanan tak halal!!!
Paspor oh Paspor!!!
Setelah membaca berbagai blog mengenai proses pembuatan paspor akhirnya saya pun berniat untuk mencobanya langsung membuat paspor. Berhubung Insya Allah bulan Januari saya mau backpaking ke S’pore-Malaysia-Thailand ya otomatis saya dah butuh paspor. Rabu 5 Nov 2008, berhubung paginya saya tidak ada kuliah dan sesi kedua yang seharusnya ada kuliah tetapi telah dimajukan kemarinnya berarti seharian ini saya kosong donk, ya sudah saya berangkat seorang diri menuju kantor Imigrasi Jakarta Selatan di daerah Warung Buncit. Tadinya saya berniat membuat paspor di kantor imigrasi Bogor yang katanya lebih sepi, tapi setelah dipikir2 kalo buat di sana terlalu jauh. Sejak pukul 7.00 saya telah menunggu bus Bianglala 48/64 AC jurusan Depok-Grogol yang melalui wilayah tersebut, ya ampun lama banget!!!!!! Masa 1 jam saya mnunggu ga ada satu pun bus jurusan tersebut yang muncul, karena sudah terlanjur kesal akhirnya kuputuskan untuk menggunakan Minibus Miniarta ke arah Pasar Minggu, Cape deh!!!!
Sesampainya di Pasar Minggu saya mulai kebingungan nih wah pakai kendaraan mana lagi nih!!!!! Saking banyaknya orang saya jadi bingung harus tanya sama siapa. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan taksi ke kantor imigrasi, sungguh hari yang menyebalkan saya lupa kalo ini adalah jam kantor!! Artinya jalan lagi macet, benar saja ketika di daerah warung buncit macet BGT, taksiku jalan sangat kamban, walau akhirnya dapat sampai ke kantor imigrasi tapi saya harus merogoh kocek Rp 25.000 padahal biasanya hanya Rp 12.000an!!! wehhh. Sesampainya di kantor imigrasi saya mulai kebingungan juga nih, walau udah baca berbagai saran dan informasi pembuatan paspor tapi saya masih tetap bingung harus mulai darimana. Kuberanikan diri tanya satpam, dan ternyata prosesnya simple kok!!!
Pertama: ambil (beli) formulir di loket 1 yang terletak di bawah tangga tepat di dekat pintu masuk harnganya Rp 7.000, sudah kuduga sebelumnya walau di depan map disebutkan bahwa formulir gratis tetapi entah mengapa harus dibeli. Walapun memang sedikit lebih murah dari yang diceritakan di blog kalau di imigrasi Bogor katanya Rp 10.000 dan di Imigrasi Bandung Rp 15.000
Kedua: isi lengkap forrmulir tersebut, dan lengkapi dokumen yang diminta yaitu fotokopi KTP, fotokopi KK, dan fotokopi akte kelahiran/ijazah/surat nikah (pilij salah satu juga), kita perlu juga melampirkan dokumen yang aslinya untuk pengecekan saja. Usahakan sudah membawa dokumen yang disyaratkan sehingga kita dapat langsung memasukkannya ke loket pengajuan permohonan paspor baru.
Ketiga: setelah diisi dan dilengkapi ambil no antrian untuk loket permohonan paspor baru, nanti kita akan dipanggil.setelah dipanggil oleh loket serahkan berkas kita dan nanti kita sedikit ditanya2 untuk apa buat paspor, mau kemana,dll. Nah kebenaran nih waktu saya membuat paspor saya tidak membawa Kartu keluarga asli tapi tenang kok, biasanya kalo belum melampirkan dokumen yang asli boleh saat wawancara saat kunjungan berikutnya. Oh iya karena saya masih mahasiswa saya diminta untuk melampirkan pula fotokopi KTM saya. Masih di loket ini nanti kita akan mendapatkan selembar bukti penerimaan pengajuan paspor baru dimana pada lembaran itu akan tertera tanggal kapan kita harus datang lagi untuk proses berikutnya.
Selesailah proses hari pertama, nah setelah itu kita bisa pulang deh. Oh iya, hal yang menarik pada hari pertama ini biasanya banyak orang yang ternyata adalah CALO menawarkan jasanya, walaupun memang mereka menjanjikan paspor kita jadi hari itu juga, tapi saran saya jangan gunakan jasanya, selain akibat itu kita telah menzalimi orang lain, jangan biarkan budaya KKN melekat pada instansi2 pemerintahan kita, toh saya pun lancar2 aja tuh asalkan menuruti prosedur yang ada!!!!
Hari kedua, 7 November 2008. Sesuai dengan waktu yang ditentukan saya datang lagi ke kantor imigrasi Jakarta Selatan. Nah kali ini karena lebih berpengalaman saya merasa lebih tenang. Mengingat pengalaman hari sebelumnya yang sangat ramai, maka saya berangkat lebih awal dan berharap dapat datang sebelum kantor dibuka. Benar saja sesampainya di sana kantor masih relatif sepi dan saya pun dapat lebih cepat menyelesaikan proses di hari kedua ini. Ringkasnya:
Pertama: saya menuju loket IV dan menyerahkan lembaran bukti yang kemarin saya dapatkan kepada petugas disertai dengan memperlihatkan dokumen asli yang sebelumnya belum dibawa. Bila sudah kita tunggu dipanggil untuk diberikan berkasnya untuk kemudian ke lantai 2 dan melakukan pembayaran.
Kedua: setelah mendapatkan berkas segera menuju lantai 2 dan berikan berkas pada loket untuk melakukan pembayaran sejumlah Rp 270.000 (sudah termasuk biaya foto dan sidik jari). Tapi kebenaran saya diharuskan membayar Rp 275.000 (Rp 4.000 untuk donasi PMI, yang Rp 1.000 entah untuk apa!!!), setelah itu kita akan mendapatkan bukti pembayaran.
Ketiga: lalu segera menuju ruang biometrik yang berada di bagian gedung lain di sebelah utara gedung utama, masukkan berkas dan tunggulah nama kita dipanggil. Di sinilah ulah calo menyebalkan, kasihan kan orang yang sudah menunggu lama tetapi disela akibat adanya calo, walaupun saya tidak mengalami penyelaan itu karena saya relatif datang pagi jadinya saya cepat dipanggil untuk difoto kemudian diambil sidik jari (semua jari), setelah itu ada sedikit wawancara (sifatnya sih formalitas deh) berkaitan dengan formulir yang sebelumnya kita isi dan tujuan membuat paspor, serta kemudian menandatangani paspor. Saya sarankan untuk selalu memberi senyuman dan ucapan terima kasih pada setiap petugas yang melayani kita, hal ini terbukti efektif untuk memudahkan proses dan mereka pun cenderung jadi baik lho, hehehehehe!!!! NB: walau relatif cepat, tetapi kalo datang di pagi hari siap-siap saja anda menghadapi masalah akibat sistem server) kantor imigrasi yang masih belum berjalan baik, jadinya anda perlu bersabar menunggu komputer saat pemotretan menyala.
Begitulah proses dihari kedua, tidak lama kok, saya pun hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menyelesaikan semua tahapannya, yang penting adalah bersabar dan ikuti prosedur yang ada. OK. Tinggal di menunggu hari pengambilan paspor!. Saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Papah dan adikku yang telah bersusah payah mau mengantarkan kartu keluarga asli ke depok jauh-jauh dari Bandung!!!
Akhirnya, datang hari yang kutunggu. Sesuai apa yang diinformasikan petugas pewawancara, saya dapat mengambil paspor saya pada tanggal 13 November 2008 di atas pukul 14.00, saya pun datang sekitar pukul 15.00 dan menuju loket V kemudian menyerahkan bukti pembayaran. Saya kemudian mengisi buku pengambilan paspor dan disuruh untuk memotokopi paspor tersebut untuk diserahkan kepada petugas, dan Saya pun mendapatkan paspornya!!!!!!!!!!!!!!
Selamat membuat papor bagi yang mau membuatnya, jangan pake jasa CALO yah!!!!!!
My first Globally Opinion
This is an opinion from an undergraduate who has only a few knowledge about this issue. I think we must redefined what Islamic finance is. That is a narrow thinking if we just define Islamic Finance as Conventional Finance minus riba (usury/interest) and plus zakah. Behind the concept built, there is a moral lesson and values involved. That’s too simple if we want to discuss Islamic concept itself. We need fully understand what Islam itself.
Now, many undergraduates in my country concerning to study this issue although formally we study in conventional based economic. Because we believe that this concept has a potential to bring our world to an equitable, both Muslim and Non Muslim, society.
Recommended by 7 peoples who read the article. Opinion on “Faith Based Financing” on The Economist (http://www.economist.com/world/mideast-africa/displaystory.cfm?story_id=12052679)
My Next Interview Experience
Assalamu ‘Alaikum Wr Wb
Bagi sebagian orang menghadapi wawancara bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilakukan, begitu pula dengan saya. Namun apa mau dikata takdir mengatakan bahwa kemarin pukul 09.00 WIB saya diharuskan menghadapi sebuah wawancara untuk rekruitmen asisten laboratorium Dept. Akuntansi FEUI. Mencoba-coba mengingat apa yang dikatakan berbagai “pakar wawancara” yang rajin memberikan tips mereka di milis yang saya ikuti, kesimpulan yang saya dapatkan adalah
1. Persiapkan diri sebaik mungkin terutama penampilan dan kesehatan, dengan penampilan yang prima kemarin saya mencoba menaklukan ketakutan saya
2. Kuasai diri dan lingkungan, terutama mengenai informasi pribadi yang sebelumnya telah ada di tangan pewawancara dan segala hal yang berkaitan dengan pewawancara. Buka kembali pengetahuan dan informasi yang dimiliki, hehehe kalo mau jadi aslab sebelumnya belajar dulu yah
3. Berpikir positif dan saya melakukan berdasarkan semangat yang saya peroleh dari buku “Sang Pemimpi-nya mas Andrea”, saya selalu optimis dan berusaha menguasai arah pembicaraan, hehehe
4. Jawablah dimulai dengan jawaban utama lalu bumbui dengan berbagai fakta yang anda alami sendiri, tapi awas jangan sampai kelewat sombong
5. The most important doa dari orang tua atau penyemangat dari orang yang dekat, hehehe banyak membantu lho dalam meningkatkan percaya diri.
Hasilnya??? belum keluar tuh, hahaha tunggu saja jawabannya setelah Mid Test, dua minggu lagi.CU
Note: saya lebih suka disuruh mengajar satu kelas yang berisi 100 orang daripada harus wawancara dengan 1 orang. hehehe
The need of value in Economic
Saat ini dunia sedang mengalami kekhawatiran yang besar terhadap prospek perekonomian terutama sektor keuangan akibat memburuknya kondisi pasar keuangan dan modal dunia. Indikator dari kondisi ini adalah kejatuhan bursa-bursa saham di berbagai belahan dunia. Bila mengingat krisis yang menimpa Asia 10 tahun yang lalu di mana saat itu masih ada tempat di dunia yang dapat dijadikan “tempat pelarian” untuk menyelamatkan dana yang dimiliki modal. Namun, kondisi yang dihadapi saat ini jelas berbeda, hampir seluruh bagian dunia terkena imbas dari keserakahan sekelompok manusia yang hanya memikirkan kepentingan jangka pendek tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat secara keseluruhan. Lihat saja negara-negara yang selama ini didewa-dewakan sebagai episentrum ekonomi dan keuanga dunia karena kekuatan ekonominya seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa, juga mengalami dampak yang tidak dapat dibilang kecil akibat krisis keuangan ini. Bahkan bila kita membaca beberapa artikel di media massa keluaran negeri Paman Sam, ekonom negara tersebut berpendapat bahwa kondisi ini merupakan yang terburuk setelah Great Depression tahun 1930-an.
Mungkin saya ingin mencoba mereview penyebab terjadinya krisis ini, secara umum berdasarkan beberapa artikel yang saya baca disebutkan bahwa awalnya penyebab dari krisis finansial ini adalah penyaluran kredit perumahan kepada debitor yang memiliki belum kemampuan bayar (subprime) oleh lembaga keuangan Amerika Serikat. Memang saat itu pemerintah AS sedang melakukan kebijakan ekonomi ekspansif dengan memasang tingkat bunga yang relatif rendah. Penyaluran kredit ini menjadi bermasalah ketika pemerintah mulai menaikan bunga ketingkat sekitar 4-5% (walaupun secara kasat mata tingkat bunga ini masihlah rendah, tetapi dila dibandingkan dengan tingkat bunga sebelumnya berarti ada kenaikan 100% dari sebelumnya 2-3%). Tentunya akibat kenaikan bunga ini, debitor perumahan subprime yang rentan terhadap sedikit kenaikan bunga, benar-benar tidak mampu memenuhi kewajibannya.
Lantas mengapa dampaknya begitu besar? toh seharusnya yang terkena dampak bank yang bersangkutan bukan? Selidik punya selidik kerakusan mulai ditunjukkan oleh kaum kapitalis di Amerika Serikat, mereka mengsekuritisasi jaminan subprime (subprime mortgage) tersebut untuk kemudian jaminkan/dijual untuk mendapatkan pinjaman. Ternyata yang membeli jaminan tersebut tidak lain adalah bank-bank investasi besar eh.. raksasa yang notabenenya mempekerjakan lulusan universitas-universitas Amerika Serikat yang katanya terdidik di institusi pendidikan terbaik di dunia yang seharusnya bisa mengambil keputusan lebih baik bukan!!! Selanjutnya jaminan tersebut diperdagangkan kembali di antara investor dan bak kacang goreng laris manis di pasaran padahal risiko yang mengintai di belakangnya sangatlah besar. Perdagangan yang tidak dilandaskan pada sektor riil tersebut akibatnya menjadi bubble yang sewaktu pecah akan mengagetkan orang yang mendengar pecahan tersebut. Disinilah kaitan mengapa banyak lembaga keuangan yang kolaps akibat para debitur tidak mampu memenuhi kewajibannya, nilai jaminan tersekuritisasi yang sebelumnya sangatlah besar bagi investor mendadak tidak bernilai apa-apa akibat selama ini hanya tidak dilandasi backing asset yang jelas yang melandasi nilai transaksinya.
Lembaga keuangan raksasa seperti Lehman Brother, Bear Stearns menjadi tidak berdaya karena aset yang mereka miliki tidak sebanding dengan kewajiban yang harus dipenuhi, akhirnya mereka pun menyerah menghadapi kejamnya dunia, kondisi tidak jauh berbeda pun dialami Merrill Lynch yang kemudian selamat akibat diakuisisi oleh Bank of America dan AIG yang terpaksa diselamatkan pemerintah AS. Tidak hanya di Amerika Serikat beberapa lembaga keuangan di banyak negara ternyata memiliki subprime mortage ini didalam neracanya akibatnya badai krisis jaminan perumahan ini merambat ke berbagai belahan dunia.
Sebenarnya saya agak heran mengapa pemberian pinjaman tersebut dapat digelontorkan begitu saja oleh institusi keuangan AS yang notabenenya negara di mana mereka beroperasi adalah negara yang paling gencar mendengung-dengungkan internal control, dengan adanya SOX, COBIT, COSO didukung oleh pengendalian regulator yang ketat dari SEC, AICPA seharusnya mereka dapat lebih mengantisipasi kejadian seperti ini bukan???? Menurut saya permasalahannya adalah tindakan yang mereka lakukan tidak dilandasi dengan nilai dalam pengambilan keputusan yang membimbing pelaku pasar bertindak dengan semestinya. Sekuat apapun sistem ekonomi yang dijalankan, sebaik apapun sistem pengendalian yang dibentuk tetapi bila tindakan dari pelakunya tidak dilandasi oleh nilai hal tersebut menjadi sia-sia. Keberadaan nilai tentunya menjadi koridor bagi pelaku pasar untuk menentukan apakah tindakan yang dilakukannya tidak hanya memntingkan unsur pengambilan keuntungan sebesar-besarnya dengan mengabaikan unsur dampak yang ditimbulkan. Kondisi yang terjadi sekarang menunjukkan bahwa sudah saatnya nilai (values) dijadikan pertimbangan/variabel dalam pengambilan keputusan ekonomi untuk menciptakan perekonomian yang lebih baik, stabil, berkeadilan, dan membawa kesejahteraan bagi umat manusia.
Economix 2008; Committee Dispersal
The committee of Economix 2008 was dispersed!!!
Yes, yesterday formally the committee which did its event on February was dispersed by a nice buffet dinner (aside with closing of fasting of that day) in Satoo Restaurant, Shangri La Hotel Jakarta.
It was come by 52 persons covering SC, Advisor and committee. Starting from 7 P.M
KiAMI’s Gathering
Assalamu ‘Alaikum Wr Wb
Alhamdulillah
At September 23rd, 2008 KiAMI FSI FEUI held “BuBar n TimBul – KiAMI’s Gathering” in Mang Kabayan Restaurant Depok.
Gathering was participated by almost KiAMIerz. We met in Taman Makara FEUI and went to the Mang Kabayan together. The gathering itself started on 05.00 P.M. which guided our nice MC, Cecep Rahmat Hidayat (Staff of MSG-Mgmt’07.
Continued by speech from KiAMI’s director Fazri Zaelani and a Tausiyah which came from Giri Suseno. In his Tausiyah, he said that KiAMIerz must did their best effort in socializing Islamic Economics concept among people around them. Referred to Al-Qur’an Surah Al Haysr “tell it despite of a verse”, he also reminded us not to keep by ourselves what we know about Islamic Economic, there must be a transfer of knowledge among us.We also did a mini game tightening our understanding one another.
Not far from it, the most favorite part was coming. Firstly we ate our Ta’jil (appetizer) to void our fasting, and were continued by Maghrib praying together.Then the main courses were fully dined by 17 persons just for some minutes hehehehe. The peak of gathering closed by exchanging present which previously must be prepared and brought by us. Every one got a piece of paper which written a number, he or she got a present which covered newspaper according to the number shown. There many kind of items like binder, ballpoint, asthray, pins, paper, and other unique items. This was a most interesting part of this gathering, there were some smiles, laughs, hopes and sorries when every one read the letter attached in the present.
We wanna say many thank you for:
all KiAMIerz who came (Director- Fazri, General Secretary-Anis, Managers-Fariz;Nia;Eka;Teguh, All of Staffs-Wina;Ardi;Giri;Cecep;Egi;Shinta;Rifki;Sulis;Bayu;Ananta;and Fenno)
Special Thanks for : Eka who celebrated her 20th years old birthday and subsidized our gathering, Anis our beloved General Secretary who always patiently guide and kindly gave us many chocolates in the end of gathering!!! hehehehe.
we hope our relationship will be almost of our life.
Teguh >Manager of External Affairs KiAMI FSI FEUI 2008<
Arah Pengembangan Ekonomi Islam FEUI
Bismillahirahmaanirahiim
Perkembangan ekonomi syariah khususnya di Indonesia yang semakin hari semakin menjanjikan merupakan sebuah angin segar bagi umat manusia terutama orang-orang yang merindukan sistem ekonomi yang adil serta dapat membawa kepada kesejahteraan. Suatu hal yang patut dibanggakan dan perlu terus didorong oleh umat Muslim pada khususnya perkembangkannya agar benar-benar dapat terwujud sistem ekonomi syariah yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perekonomian masyarakat serta tercipta kehidupan ekonomi masyarakat yang sesuai syariah atau sesuai apa yang telah diperintahkan Allah melalui petunjuk-Nya dalam Al Quran dan apa yang dicontohkan Rasulullah melalui hadistnya.
Fenomena berkembangnya ekonomi syariah ini ternyata sampai juga ke dalam kehidupan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Secara informal perhatian terhadap perkembangan ilmu ekonomi syariah oleh civitas akademika Fakultas Ekonomi UI mulai terfasilitasi oleh Forum Studi Islam melalui divisinya Kajian Ekonomi Islam (KEI) sekitar tahun 1996-1997 yang secara khusus melakukan kajian-kajian ekonomi syariah. Lalu pada tahun 1999, muncul spesialisasi kajian yang lebih spesifik mengaji masalah ilmu akuntansi dan manajemen syariah dalam satu wadah organisasi yang sama yaitu Kajian Ilmu Akuntansi dan Manajemen Islam (KiAMI) yang awalnya bernama KAMI. Walaupun secara informal telah berkembang dan keinginan langsung mahasiswa akan pengembangan ekonomi syariah telah terlihat, hal tersebut belum mendapatkan perhatian secara pasti apalagi dukungan secara formal dari pihak fakultas atau universitas sendiri.
Akan menjadi suatu hal yang terasa kurang signifikan bila kajian-kajian yang selama ini dilakukan mahasiswa tidak mendapat dukungan secara formal serta tindak lanjut untuk lebih dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tampaknya hal tersebut disadari mahasiswa yang selama ini turut memperjuangkan pengembangan ekonomi syariah. Hasilnya, pada tahun 2002 ada respon dari jajaran pimpinan Fakultas Ekonomi untuk mendukung pengembangan ekonomi syariah. Dibuktikan dengan tersusunnya silabus ekonomi syariah yang diintegrasikan dalam mata kuliah wajib Agama Islam dan adanya pelatihan asisten ekonomi syariah untuk mendukung hal tersebut, serta adanya kabar bahwa ke depannya ekonomi syariah akan menjadi mata kuliah tersendiri pada masing-masing jurusan di Fakultas Ekonomi UI ini. Di bawah kepemimpinan dekan yang baru melalui momentum penerimaan angkatan 2006, realisasi kabar mata kuliah ekonomi Islam pun dapat terwujud. Mulai angkatan ini, telah dimungkinkan mahasiswa mengambil mata kuliah lintas jurusan untuk mengambil mata kuliah ekonomi syariah dan khususnya di departemen akuntansi telah ada jalur spesialisasi akuntan syariah. Hingga saat ini, mata kuliah tentang ekonomi syariah yang ada di Fakultas Ekonomi UI terdiri atas ekonomi syariah, akuntansi syariah, manajemen keuangan syariah, pasar dan lembaga keuangan syariah, serta perbankan syariah. Pada tahun 2006 pula Fakultas Ekonomi memiliki lembaga resmi yang khusus mengaji dan mengembangkan ekonomi dan bisnis syariah yang bernama Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi UI (PEBS FEUI). Diharapkan dengan dukungan nyata ini turut menjadi akselerator dalam perkembangan ekonomi syariah ke depannya khususnya di kampus ini.
Masih sangat jauh untuk mengatakan bahwa perjuangan yang harus dilakukan civitas akademika Fakultas Ekonomi UI dalam mengembangkan ekonomi syariah akan segera berakhir, karena bila kita mengingat konsep business life cycle atau tahapan pemasaran produk dalam mata kuliah pemasaran, dengan melihat perkembangan dan fakta yang ada saat ini kehidupan ekonomi syariah baru saja dimulai atau dalam siklus pertumbuhan. Mungkin bila ekonomi syariah ini merupakan produk yang harus dipasarkan, produk ini barulah masuk ke pasar, market share yang dimiliknya masih kecil bila dibandingkan kompetitor lainnya yang telah lama bermain dan menguasai pasar ini, produk ini pun harus menawarkan suatu yang baru dan berbeda untuk menarik perhatian dan keinginan konsumennya entah itu menggunakan strategi cost minimization, produk differentiation, ataupun market focus. Dengan pertumbuhan yang cukup tinggi setiap masanya, produk ini dapat digolongkan dalam “question mark”.
Melihat kondisi itu apa yang harus dilakukan pihak-pihak yang sejak awal telah mendorong pengembangan ekonomi syariah ini? Serta ke arah mana perkembangan ekonomi syariah akan dibawa? Berdasarkan fakta yang ada, walaupun telah banyak diselenggarakan kajian-kajian, seminar-seminar, bahkan secara formal telah ada mata kuliah tentang ekonomi syariah oleh organisasi kemahasiswaan dan fakultas yang secara langsung berinteraksi antarsesamanya, masih banyak orang yang tidak mengetahui apa yang dinamakan ekonomi syariah itu dan bagaimana keberadaannya dalam perekonomian masyarakat. Jadi, salah satu hal yang harus dilakukan dalam membawa ekonomi syariah ke tahap selanjutnya adalah lebih membuka akses orang-orang terhadap informasi berkaitan dengan perkembangan ekonomi syariah khususnya di Fakultas Ekonomi yang pada dasarnya memiliki basic skill dan knowledge tentang perekonomian.
Berdasarkan apa yang selama ini saya amati dan rasakan sendiri bahwa perkembangan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi ini hanya terbatas pada orang-orang tertentu yang memang terlibat dalam pelaksanaannya tanpa menyebar kepada pihak lain di sekitarnya. Seharusnya sebagai “pemasar” yang baik dalam mengenalkan “produk” barunya ini, pihak yang melakukan pengajian harus secara aktif ikut mempublikasikan informasi-informasi berkaitan dengan perkembangan ekonomi syariah. Selain melakukan publikasi ke dalam fakultas perlu dilakukan pula publikasi atas materi-materi yang dibahas dalam kajian ke luar fakultas terutama menggunakan dunia maya. Tujuannya untuk mendapatkan tanggapan dan masukan informasi dari pengaji lain dan praktisi yang memang telah berkecimpung dalam pengaplikasian ekonomi syariah. Saat ini, ekonomi syariah harus mendapat perhatian civitas akademika Fakultas Ekonomi sesignifikan mungkin, mereka harus mendapatkan “brand image” ekonomi syariah sebagai ekonomi yang adil dan membawa pada kestabilan, mereka harus ditimbulkan rasa penasarannya akan ekonomi syariah yang ke depannya akan mendukung pengembangan sistem ini dan untuk selanjutnya diharapkan orang-orang akan melihat sistem ini sebagai sebuah alternatif atas sistem yang ada sekarang.
Memang dipastikan akan terasa sangat berat membangun itu semua. Berbagai tantangan siap menghadang tercapainya semua harapan tersebut, mulai dari kultur yang telah lama tertanam pada fakultas ini, kurikulum konvensional yang lebih kuat sehingga lebih menanamkan pola pikir ekonomi konvensional yang jelas bertentangan dengan ekonomi syariah hingga mungkin masalah terbatasnya fasilitas yang dapat mendukung publikasi ekonomi syariah itu sendiri. Namun, itu bukanlah alasan untuk berpangku tangan, karena setiap ada kemauan dan usaha, Insya Allah kemudahan akan menyertainya.
Hal lain yang perlu mendapat perhatian dalam arah pengembangan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi UI ini adalah masalah kesiapan sumber daya manusia yang akan ikut mengembangkan ekonomi syariah. Sangatlah percuma bila suatu sistem yang baik dengan rencana pengembangan yang matang tetapi tanpa didukung tersedianya sumber daya manusia yang melaksanakannya. Pengaji yang telah ada saat ini, harus dapat pula mencari orang-orang potensial yang memiliki kemampuan serta orang-orang yang memiliki minat yang dapat dikembangkan dan diarahkan untuk ikut mengaji masalah ekonomi syariah. Untuk dapat menjaring orang-orang tersebut diperlukan insentif yang tepat, wadah yang dapat menyediakan suasana kondusif untuk mendorong orang-orang tersebut secara bertahap mempelajari; memperdalam; dan mengaji masalah ekonomi syariah, jangan sampai orang-orang yang sebenarnya memiliki kemampuan atau minat terhadap ekonomi syariah merubah pikiran dan pandangannya hanya karena tidak ada pihak yang memfasilitasi dan mengarahkan mereka untuk mengembangkankan ekonomi syariah.
Salah satu momentum yang dapat digunakan untuk mendapatkan orang-orang potensial tersebut khususnya mahasiswa-mahasiswi angkatan baru adalah jalur spesialisasi syariah yang telah dibuka. Pihak-pihak yang sebelumnya telah berkonsentrasi turut mengembangkan ekonomi syariah, dapat menggunakan hal ini sebagai alasan untuk mengadakan sosialisasi ekonomi syariah kepada mahasiswa secara intensif. Diharapkan dengan sosialisasi ini, minat terhadap untuk mempelajari ekonomi syariah secara formal dapat tumbuh dan orang-orang potensial tersebut dapat terarahkan. Dalam jangka panjangnya diharapkan saat ekonomi syariah telah mendapatkan posisinya telah siap orang-orang yang akan melanjutkan dan mengisi perkembangannya sesuai bagiannya.
Hal lain yang perlu lebih lanjut dikembangkan adalah hubungan dan jaringan dengan komunitas atau pihak yang berkecimpung dalam ekonomi syariah, baik secara akademis maupun praktis. Mengingat pengembangan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi UI yang masih terbilang baru, maka sangat dibutuhkan dukungan pihak luar dalam memperkuat posisi pengembangan tersebut. Pihak luar tersebut dapat berguna dalam menyediakan mulai dari informasi hingga materi.
Demikian pendapat saya tentang bagaimana seharusnya arah pengembangan ekonomi syariah di Fakultas Ekonomi UI ini. Memang dalam praktiknya, bukanlah hal yang mudah mewujudkan itu semua, dibutuhkan sinergi yang solid dari berbagai elemen agar perkembangan ekonomi syariah yang semakin baik dapat terwujud.



